Pagi itu matahari muncul dari balik dinding timur Aksharamandala. Cahayanya menimpa pelataran batu yang sudah disiapkan untuk pelatihan. Empat penjaga sudah berdiri berjajar dan masih diam dengan pikiran masing-masing tentang malam sebelumnya.
Para tetua pun muncul dengan jubah putih keperakan. Kali ini tidak ada sambutan panjang dan nasihat samar. Para tetua akan menguji langsung mereka secara individu agar masing-masing unsur menghadapi ketakutannya sendiri.
Kemudian terdengar suara berat Tetua Maruta Wisesa yang bergema menggetarkan pelan dinding dan lantai batu pelataran.
“Hari ini kalian akan mengenal diri kalian sendiri. Bukan dengan kata-kata tapi dengan ujian. Satu per satu kalian akan menghadapi bayangan terdalam dari unsur yang kalian warisi,” kata Tetua Maruta.
Obor di sekeliling pelataran pun menyala serempak menandai dimulainya ujian.
Ujian Ravankara – Api yang Membakar Dirinya.
Ravankara dipanggil pertama kali. Dia maju dan berdiri di tengah lingkaran. Seketika ruang ilusi melingkupinya.
Dia melihat dirinya kembali sebagai anak kecil. Tubuhnya demam sementara api menyembur liar dari telapak tangannya.
Dia juga melihat gubuk ibunya terbakar. Lalu terdengar jeritan dan muncul kepulan asap menyesakkan dada. Namun kali ini ibunya tidak tampak.
Yang muncul hanyalah bayangan dirinya sendiri yang tertawa sambil berkata, “Api bukan ibumu, Ravankara. Api adalah iblis yang lahir darimu. Kau akan selalu kehilangan siapa pun yang mendekatimu.”
Perlahan api itu mulai membakar dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya Ravankara tidak sedang melawan musuh tapi melawan keyakinan bahwa dirinya adalah api kutukan.
Ujian Nilacandra – Lautan yang Menelan Segalanya.
Kemudian giliran Nilacandra. Saat memejamkan mata dia merasa lingkaran menyeret tubuhnya ke dalam lautan ilusi. Begitu matanya terbuka Nikacandra sudah berdiri di tepi Samayra, pulau masa kecilnya.
Dia mendengar kembali suara ombak yang telah merenggut ibunya. Namun kali ini lautan berubah menjadi sosok raksasa berwajah Iramaya—roh laut yang dulu mengasuhnya.
Iramaya berkata, “Air bisa menenangkan … tapi bisa juga menenggelamkan. Kau tidak pernah tahu apakah aku melindungimu atau hanya menunda waktu kau tenggelam. Jika kau kehilangan kendali, dunia akan hanyut bersamamu, Nila.”
Nilacandra melihat gelombang tinggi mendekat dan siap menelan dirinya. Di ujian ini dia bukan sekadar menghadapi kesedihan tapi juga melawan rasa takut akan kekuatan laut yang bisa menghancurkan semua yang dia sayangi.
Ujian Bayuttara – Angin yang Tidak Bisa Tertambat.
Bayuttara berjalan memasuki lingkaran. Sesaat kemudian dia mendapati dirinya berada di puncak Pegunungan Kalayun. Dia merasakan angin liar berputar di sekitarnya tapi tidak ada yang bisa dia genggam.
Kemudian di hadapannya muncul sesosok bayangan leluhur. Tampilan wajahnya kabur tapi dengan sorot mata dingin yang bersinar.
Bayangan leluhur itu berkata, “Anginmu bebas, Bayu, tapi tidak mempunyai arti. Leluhurmu pernah membekukan Kuil Api Purba dan kau bahkan tidak tahu kebenarannya. Kau hanya warisan kosong yang terbang tanpa arah.”
Bayuttara mencoba terbang tapi angin menolak dan menjatuhkannya ke jurang. Dia juga harus bisa memahami apakah angin adalah sahabatnya atau sekadar kekosongan yang tidak pernah bisa dia kuasai.