Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #16

Bab 14. Mimpi

Malam itu Aksharamandala menyelimuti ke empat calon penjaga dengan rahasia yang lebih pekat dari gelapnya malam. Dan masing-masing dari mereka mengalami mimpi yang berbeda-beda.

Mimpi itu sebagai pertanda, bukan mimpi yang merupakan sebuah jawaban. Mimpi-mimpi itu bisa ditafsir bermacam-macam tapi tidak pernah secara gamblang.

Mimpi Nilacandra.

Di tengah tidurnya Nilacandra bermimpi mendengar suara ombak yang tidak biasa. Ombak dalam mimpinya bergerak tanpa suara air. Hanya berupa bayangan biru yang bergulung seperti tirai cahaya.

Di antara gulungan itu tampak ibunya berdiri di kejauhan sambil mengulurkan tangan. Tapi setiap kali Nilacandra melangkah maju mendekati ibunya, ombak itu selalu menutupi dan menghapus sosok itu. Hingga yang tertinggal hanyalah jejak remang-remang di laut dan suara seperti bisikan.

“Bukan lautan yang menenggelamkanmu, Nak … tapi rahasia yang ditutup rapat di dasar.”

Dia tidak tahu apakah itu suara ibunya atau hanya gema dari dalam hatinya sendiri.

Mimpi Ravankara

Malam itu Ravankara tidur dengan gelisah dan dahinya berkerut. Dia pun bermimpi. Dalam mimpinya dia berdiri di depan Kuil Api Purba.

Dinding-dinding kuil tertutup es bening yang berkilau. Sementara itu cahaya api di dalam kuil berteriak minta dikeluarkan tapi tidak bisa.

Dari balik dinding es muncul bayangan seorang lelaki berwajah mirip Bayuttara dan berdiri memandangnya tanpa berkata apa-apa.

Saat melihat bayangan itu api di dada Ravankara menyala hebat dan membuat darahnya mendidih. Dadanya pun terasa panas. Tetapi setiap dia mengangkat tangan api itu padam sendiri seakan ada kekuatan asing yang menekannya.

Sebelum terbangun Ravankara sempat melihat simbol berbentuk lingkaran retak di atas kuil api purba yang membeku itu.

Mimpi Satyabhumi

Satyabhumi bermimpi berjalan dengan langkah berat di dalam gua batu yang tidak berujung. Suara langkahnya seperti gema kaki ribuan orang melangkah bersamanya padahal dia berjalan sendirian.

Dinding gua mendadak retak. Dan dari retakan itu keluar akar-akar besar yang bergerak seperti tangan. Akar-akar itu meraih tubuh Satyabhumi dan berusaha menariknya. Satyabhumi mencoba menahannya tapi tanah di bawahnya runtuh.

Akar-akar pun lepas dari tubuh Satyabhumi dan dia jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Sebelum lenyap ke dasar jurang, Satyabhumi mendengar bisikan berat seperti suara bumi itu sendiri.

“Kuat, tapi sendirian … kau akan pecah.”

Mimpi Bayuttara

Bayuttara bergerak liar dalam tidurnya hingga tubuhnya berkeringat. Dia juga bermimpi. Dalam mimpinya Bayuttara berada di puncak tebing tinggi.

Lihat selengkapnya