Keheningan yang panjang itu akhirnya pecah. Saat terdengar lagi dentang lonceng batu yang menggema dari menara tinggi Aksharamandala. Suaranya berat dan dalam. Nadanya bergetar sampai ke tulang.
Sehingga suara itu terasa bukan hanya sekadar bunyi lonceng biasa tapi menjadi panggilan yang mengikat jiwa mereka. Bersamaan dengan itu dari pintu gerbang utama kuil terlihat Tetua Angin Maruta Wisesa berjalan perlahan. Ke tiga tetua yang lain mengikuti berjalan di belakangnya.
Tetua Maruta Wisesa berambut perak panjang dan terurai. Dia berbusana putih pucat dan melangkah ringan seperti ditiup angin.
Tetua Tanah Giri Kalyana bertubuh paling besar di antara mereka. Dia berselimut kain coklat tanah dengan wajah keriput tapi bermata tajam. Langkahnya menggetarkan lantai.
Tetua Air Sindhu Manikmaya, seorang lelaki setengah baya dengan sorot mata dalam bagai dasar samudra. Dia berjubah biru laut dan berjalan seperi arus di pantai.
Tetua Api Teja Kusuma, seorang lelaki kurus dengan jubah merah tua melangkah pelan. Wajahnya keras dan sorot matanya membawa nyala yang ditahan.
Tidak seorang pun berbicara sampai ke empat tetua tiba di lingkaran lantai batu. Mereka berdiri berjajar di belakang ukiran purba. Tetua Maruta membuka pembicaraan. Suaranya terdengar menggema.
“Empat jiwa, empat unsur. Bumi Biru telah memanggil kalian bukan untuk kebanggaan, bukan untuk kekuasaan tetapi untuk keseimbangan.”
Sejenak keheningan menelan kalimat itu. Kemudian Tetua Sindhu melanjutkan.
“Kalian berempat datang dari luka dan dari jalan yang terpisah. Di sini, jalan itu disatukan kembali. Tapi ingatlah ... penyatuan tanpa pengertian hanyalah belenggu.”
Tetua Giri mengangguk berat lalu menambahkan, “Hari ini kalian bukan lagi tamu. Hari ini ... kalian adalah penjaga yang sedang ditempa. Kalian akan diuji bukan hanya oleh kami tapi oleh unsur-unsur yang hidup di dalam diri kalian sendiri.”
Tetua Teja Kusuma melanjutkan. Dia melangkah maju. Terlihat nyala samar berpendar dari telapak tangannya. Suaranya terdengar kaku tapi penuh tenaga.
“Jangan berpikir kami akan menuntun dengan lembut. Api, air, tanah, dan angin tidak pernah lembut. Mereka hanya adil. Bersiaplah kalian berempat menghadapi ujian-ujian sejati bagi kalian.”
Tetua Maruta kembali berbicara, "Kami tidak bisa menentukan seberapa banyak ujian yang akan kalian hadapi. Hingga kalian benar-benar layak dan bisa melaksanakan tugas sebagai Empat Penjaga Harmoni di Bumi Biru ini. Masa depan Bumi Biru ada di tangan kalian."
Suasana kembali hening sejenak. Kemudian ke empat tetua mengangkat tangan mereka ke arah langit. Setelah itu udara terasa bergetar diikuti simbol lingkaran di lantai batu menyala satu per satu ... merah, biru, coklat, lalu putih.
Cahaya itu bergerak perlahan kemudian menyatu di tengah membentuk pilar cahaya yang naik menjulang tinggi di tengah pelataran kuil.
Sementara itu bawah pilar, Bayuttara, Nilacandra, Ravankara, dan Satyabhumi berdiri tegak. Masing-masing merasakan unsur di tubuh mereka berdenyut dan terasa keluar dari jiwa mereka.
***
Setelah pilar cahaya meredup, para tetua mundur selangkah. Tetua Maruta kemudian mengangkat tongkat tipis dari kayu yang berwarna coklat pucat. Dia berkata dengan suara yang ringan tapi tegas.
“Sebelum kalian menanggung ujian ... kalian harus belajar satu hal. Yaitu bagaimana kalian berempat berjalan dalam lingkaran yang sama.”
Dengan isyarat tangan sang tetua, ukiran purba di lantai bergeser. Cahaya dari pilar pun turun ke bawah membentuk garis tipis yang melingkari keempat calon penjaga. Cahaya itu bagaikan seutas benang tidak kasat mata yang mengikat mereka satu sama lain.