Setelah dentang lonceng batu bergema, kabut tipis turun dari atap kuil menutupi pintu gerbang utama. Pintu gerbang berkabut itu membuka perlahan. Lalu para tetua muncul dengan jubah putih panjang.
Tetua Maruta membuka kata, “Hari ini kalian akan berjalan bersama. Tapi ketahuilah tidak semua langkah menuju cahaya. Ada bayangan yang akan menuntunmu lebih cepat daripada terang.”
Tetua Sindhu menyambung perkataan. Matanya menyapu lingkaran keempat unsur.
“Apa yang semalam menyentuh tidur kalian hanyalah bisikan kecil. Di ujian nanti bisikan itu bisa menjadi gaung. Dan gaung bisa mengalahkan suara hatimu jika kalian lengah.”
Para tetua tidak menjelaskan maksud dari perkataan tadi. Tidak ada jawaban dan tidak ada arahan pasti. Perkataan itu menjadi teka-teki bagi ke empat penjaga.
Tetua Maruta menutup pertemuan singkat itu dengan kalimat peringatan yang menghantam dada.
“Jangan percaya sepenuhnya pada dirimu. Jangan pula percaya sepenuhnya pada mereka yang ada di sampingmu. Sebab keseimbangan bukanlah soal siapa yang benar. Melainkan siapa yang rela hancur lebih dulu.”
Para tetua mundur ke bayangan kabut meninggalkan ke empat penjaga yang masih berdiri di dalam lingkaran.
Saat itu mereka merasakan udara menekan dada. Sementara lingkaran batu tempat mereka berpijak terasa sempit. Dan keheningan panjang kembali menggantung.
***
Setelah para tetua menghilang bersama bayangan kabut, pelataran Aksharamandala kembali sunyi. Hanya terdengar gemerisiknya dedaunan di taman unsur yang ditiup angin.
Bayuttara menunduk sambil mengusap jemarinya yang gemetar. Kata-kata terakhir sang tetua berulang dalam kepalanya.
“Jangan percaya sepenuhnya pada dirimu.”
Nilacandra berdiri kaku. Matanya berusaha menembus kabut yang sudah sirna. Dia teringat bisikan dalam tidurnya yang kini terasa lebih nyata. Bahwa mimpi itu bukan sekadar bayangan.
Ravankara mengepalkan tangannya. Nyala api kecil berkedip di sela jari tanpa dia sadari. Kata “rela hancur lebih dulu” juga berulang dalam kepalanya seperti tantangan.
Tetapi dalam hatinya Ravankara berbisik, “Aku tidak akan jadi yang pertama runtuh.”
Satyabhumi menunduk lama membiarkan butir pasir jatuh dari genggamannya. Wajahnya tidak berubah tapi ada sesuatu yang berat menekan pikirannya.
“Jika Bumi Biru bisa retak … apakah aku mampu menahannya sendirian?”
Tidak ada kata di antara mereka. Mereka hanya berdiri dengan bayangan masing-masing. Dan bayangan itu membentuk dinding tidak terlihat yang memisahkan satu dengan yang lain.
Waktu terus merangkak. Matahari naik perlahan. Tapi cahaya paginya tidak mampu menghapus hawa dingin dari peringatan itu.