Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #19

Bab 17. Ruang Ilusi

Lantai batu hitam itu berdenyut. Sekali … dua kali … lalu retak. Cahaya pun menyembur dari bawah. Bukan hanya satu melainkan empat warna. Merah bara, biru laut, putih angin, dan coklat tanah.

Cahaya-cahaya itu berputar liar membentuk pusaran besar yang menelan mereka berempat ke dalam arena ujian kolektif pertama yang disebut ruang ilusi.

Mereka merasa berdiri di tengah hamparan luas. Di sana mereka melihat langit berputar, tanah bergetar, udara berdesir, dan sungai api mengalir di bawah kaki.

Sesaat kemudian terdengar suara tetua Maruta menggema di antara langit dan bumi.

“Tunjukkan keseimbanganmu. Satu langkah keliru, maka unsurmu akan menelanmu sendiri.”

Mereka bersiap. Bayuttara mengangkat tangan membentuk pusaran angin untuk melindungi yang lain. Nilacandra memanggil air untuk menenangkan arus magma yang mengamuk di bawah. Satyabhumi menguatkan pijakan dan menstabilkan tanah yang retak.

Namun di tengah harmoni yang baru mulai terbangun, Ravankara hanya berdiri diam. Matanya menyala merah. Nafasnya cepat. Api di sekelilingnya bergoyang seperti menunggu perintah.

Ravankara melihat Bayuttara sebagai simbol Klan Angin. Pewaris leluhur yang menurut kisah kelam Samana telah membekukan Kuil Api Purba dan mengutuk Suku Bara dalam pengasingan abadi. Dendam lama yang disimpannya selama bertahun-tahun tanpa sadar bangkit kembali.

Ravankara berkata dalam hati, kau berdiri di hadapanku … dengan wajah yang sama dan darah yang sama seperti mereka!

Dia tidak bisa lagi mengendalikan emosinya hingga nyala api di sekelilingnya membesar kemudian meledak. Gelombang panas pun menghantam pelindung angin Bayuttara hingga pusarannya goyah. Bayuttara menatapnya tidak percaya.

“Ravankara! Apa yang kau ....” seru Bayuttara.

“Kau pikir aku tidak tahu siapa kau? Darahmu membekukan kami!” sahut Ravankara.

Nilacandra berusaha memadamkan bara di antara mereka. Tapi airnya justru menguap ke udara menjadi kabut yang mendesis. Satyabhumi menginjak tanah kuat-kuat berusaha menahan retakan yang mulai melebar.

Namun keseimbangan sudah hancur. Api menelan angin, angin mengoyak air, air menenggelamkan tanah, dan tanah membalas dengan getaran hebat.

Ujian yang seharusnya menguji kerja sama berubah menjadi kekacauan empat unsur. Badai, bara, ombak, dan gempa menyatu tanpa arah.

Dalam kekacauan itu hanya satu hal yang terdengar jelas. Yaitu bisikan para tetua dari kejauhan.

“Beginilah awal dari ketidakseimbangan. Empat unsur menyatu tapi tanpa jiwa yang satu.”

Empat cahaya di arena saling beradu kemudian pecah menjadi kabut putih tebal. Suara api, air, tanah, dan angin lenyap bersamaan. Dan ketika semuanya mereda, mereka berempat tersadar kalau masih berada di tengah lingkaran lantai batu hitam yang sama seperti semula.

Tapi tatapan mata mereka kini berbeda. Bukan lagi tatapan calon penjaga melainkan tatapan mata yang telah melihat kebenaran kecil dan kebohongan yang lebih besar.

***

Kabut putih perlahan memudar. Suara bising unsur yang saling bertabrakan pun lenyap. Digantikan oleh keheningan yang dalam.

Mereka berempat kembali berdiri di tengah lingkaran batu hitam. Tidak ada luka di tubuh. Yang ada lelah dan amarah yang menempel di wajah mereka seperti abu sisa kebakaran.

Bayuttara masih dengan napas terengah-engah dan pakaian lusuh oleh debu ilusi. Dia menatap Ravankara dengan mata lelah tapi tajam.

Nilacandra berdiri di antara mereka. Tangannya masih terangkat siap menahan jika salah satu kembali menyerang.

Lihat selengkapnya