Malam itu Ravankara juga belum bisa tidur. Dia keluar kamar dan berniat menuju pelataran. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar gema langkah kaki di lorong yang semakin mendekat.
Ravankara bersembunyi di balik pintu. Suara langkah kaki itu berbelok menuju kamar peristirahatan yang lain. Dari celah sempit dia melihat Bayuttara berjalan menuju kamarnya.
Ravankara bergegas menuju pelataran. Suasana hening. Obor di tembok sekeliling pelataran pun telah padam. Menyisakan bau hangus dan abu halus yang tampak bertebaran di lantai batu di bawah obor.
Sambil berjalan Ravankara melihat ke sekeliling. Tanpa sengaja pandangan matanya berhenti di kolam refleksi. Dia melihat sosok berjubah biru dengan rambut terurai.
"Anak air ...," gumam Ravankara menghentikan langkah di luar lingkaran batu hitam.
Dia kemudian duduk di lantai batu dan mengalihkan pandangan ke tengah lingkaran tempat ujian tadi berlangsung. Bekas retakan kecilnya masih memancarkan warna merah redup. Sisa dari ledakan yang gagal dia kendalikan.
Ravankara mengepalkan tangan. Saat itu lantai batu di bawahnya bergetar pelan. Sementara api dalam dirinya belum juga padam. Hanya tertahan di ambang batas seperti binatang buas yang dirantai.
“Klan angin ...,” gumamnya pelan. Suaranya serak menahan dendam.
“Kalian membekukan segalanya. Bahkan nyala kami!” lanjutnya.
Dia teringat wajah Bayuttara yang saat itu menatapnya bingung dan mengatakan tidak tahu apa-apa tentang itu. Karena ketidaktahuan itu, amarah Ravankara semakin tajam.
Baginya, kebodohan adalah bentuk penghinaan. Bagaimana bisa seseorang yang mewarisi kendali angin tapi tidak tahu bahwa anginnya pernah membekukan ribuan jiwa di Kuil Api Purba?
***
Angin lembah Nirantara meniup pikiran Ravankara kembali ke masa lalu. Ke sebuah reruntuhan Kuil Api Purba yang telah membeku oleh es abadi seperti di mimpi buruknya setiap malam.
Dia ingat bagaimana para tetua klannya menceritakan kisah itu dengan mata yang menatap kosong ke langit. Penderitaan mereka begitu dalam.
Tidak ada kata-kata yang dapat menghibur mereka. Dan tidak ada uluran tangan yang dapat menghapus luka itu. Semua yang hidup di bawah langit merah Lembah Samana sudah tahu siapa yang harus disalahkan.
Lalu muncul bayangan lain. Seorang lelaki dengan jubah api sedang berlutut di tengah reruntuhan Kuil Api Purba yang terbalut es abadi. Sorot matanya redup menatap langit merah yang membeku.
Lelaki itu berbisik, “Api kita tidak padam, Ravankara! Dia hanya menunggu Bumi Biru berani memanggilnya kembali.”
Ravankara tersadar kembali dan menatap telapak tangannya. Api kecil muncul di sana. Bukan dari mantra tapi dari pikirannya sendiri. Namun kali ini api itu berwarna lebih gelap. Merah kehitaman dengan lidah-lidah halus yang berputar-putar.
Dari dalam nyala api itu terdengar sesuatu. Bukan suara manusia bukan juga bisikan dari udara. Tapi gema yang beresonansi dari dalam tulang dan darah Ravankara sendiri.
“Kau tahu mereka tidak akan memahamimu, Ravankara. Kau bukan bagian dari keseimbangan mereka. Kau adalah api kutukan yang mereka takutkan.”
Ravankara memejamkan mata. Nafasnya bergetar. Dia menjawab dalam hati, Aku tidak ingin menghancurkan mereka. Aku hanya ingin mereka tahu … apa yang pernah mereka lakukan pada api.
Bisikan itu hanya tertawa. Getarannya membuat nyala api di tangan Ravankara semakin besar dan menjilat liar.
Cahaya api itu membentuk bayangan simbol yang aneh di lantai batu hitam, sebuah lingkaran berisi empat garis silang. Namun, satu garis yang melambangkan api tampak patah.
Simbol itu sama seperti yang muncul di kamar Nilacandra. Hanya kini terukir dengan nyala merah pekat.
Ravankara tertegun. Seketika api di tangannya padam dengan sendirinya. Tapi simbol itu masih terlihat beberapa detik sebelum lenyap.
Dan dalam keheningan setelahnya dia merasa sesuatu bergerak jauh di bawah tanah. Seperti jantung yang berdetak pelan dari dalam tanah Aksharamandala.