Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #21

Bab 19. Pagi Para Penjaga

Langit malam Aksharamandala belum berubah warna tapi aroma dini hari sudah mulai terasa. Udara lembab membawa sisa embun dari hutan Lembah Nirantara.

Setelah selesai dengan urusan masing-masing, ke empat penjaga kembali ke kamar masing-masing dalam waktu yang tidak bersamaan. Mereka membawa makna yang berbeda-beda dari kejadian itu. Tidak satu pun yang menyadari bahwa langkah-langkah mereka sebenarnya telah menggetarkan dasar Aksharamandala.

Bayuttara meninggalkan Nilacandra yang masih ingin menyendiri di kolam refleksi. Dia berjalan sendirian menyusuri lorong. Langkahnya bergema samar. Malam ini terasa berat baginya. Udara menolak disentuh meski angin berembus di sekitar tubuhnya.

Di kepalanya berputar kata-kata Ravankara yang penuh kemarahan. Dan wajah Nilacandra yang menatapnya dengan cemas tapi tidak tahu harus berkata apa.

“Leluhurmu membekukan kuil kami ….”

Kalimat itu terus menggema. Bayuttara menggenggam dada kirinya. Bukan karena sakit tapi karena udara seakan tidak mau masuk.

Bayuttara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Dia hanya tahu bahwa sejak malam itu angin di sekitarnya tidak lagi berputar dengan tenang.

Sebelum menutup pintu kamarnya, Bayuttara berbisik ke langit, “Kalau benar itu dosa angin ... maka biarkan aku yang menanggungnya.”

Setelah pertemuannya dengan Satyabhumi di kolam refleksi, Nilacandra kembali ke kamarnya yang menghadap ke taman unsur. Langkahnya pelan karena takut menimbulkan riak di udara yang terlalu hening.

“Apakah keseimbangan memang seharusnya terasa sesepi ini?” gumamnya.

Ketika itu air di kolam refleksi masih berkilau samar. Dan saat Nilacandra lewat, pantulan bayangan bulan bergoyang membentuk lingkaran seperti mata yang sedang menatapnya. Dia berhenti sebentar lalu memperhatikan.

Air di dalam diri Nilacandra bergolak lembut. Bukan amarah tapi kegelisahan yang terus mencari bentuk. Dia tahu sesuatu sedang berubah. Tapi seperti sungai yang terperangkap di bawah lapisan es, yang hanya bisa menunggu celah kecil untuk mengalir lagi.

Malam itu Satyabhumi bertemu dengan Nilacandra dan Ravankara dalam rentang waktu yang berbeda. Setelah urusannya selesai, dia kembali ke kamarnya.

Satyabhumi nenyusuri lorong yang berlantai batu berat. Setiap langkahnya bergema pelan seirama dengan denyut bumi di bawah kakinya. Dia menatap telapak tangannya yang masih terasa hangat setelah pertemuannya dengan Ravankara.

“Api yang menyala terlalu lama akan mencari tanah untuk berpijak,” gumamnya pelan.

Namun tanah pun punya batas ketahanan. Satyabhumi menyentuh dinding batu kuil dan berbisik padanya, “Jika waktunya tiba, semoga kau cukup kuat menahan mereka, Bumi Biru.”

Di langit, satu kilat halus menyambar jauh di barat, tanpa suara.

Sementara Ravankara kembali ke kamarnya setelah berlatih di ruang api. Kamar Ravankara adalah yang paling gelap. Dia tidak menyalakan obor malam ini karena takut pada cahaya yang lahir dari dirinya sendiri.

Ravankara duduk di sudut kamar. Dia menatap telapak tangannya yang masih bercahaya merah redup. Cahaya itu muncul dan hilang sendiri seperti napas yang tidak mau berhenti.

“Kau sudah mulai retak, Ravankara,” katanya pada dirinya sendiri, “Tapi Bumi Biru pun retak lebih dulu.”

Lihat selengkapnya