Sinar mentari pagi menembus kabut tipis di lembah Nirantara. Empat calon penjaga unsur telah berada di lingkaran batu pelataran Kuil Aksharamandala. Mereka berdiri di bawah pandangan para tetua unsur dan bersiap untuk mengikuti latihan pengendalian atau penahanan unsur.
Tetua Angin, Maruta Wisesa, memberi instruksi, "Hari ini ujian lanjutan. Kalian akan menguji unsur masing-masing. Tidak ada kemenangan atau kekalahan. Hanya memahami apa yang terjadi ketika angin, api, air, dan tanah saling bertemu dan berbenturan."
Namun tatapan mata Ravankara sudah berbeda. Api dendam pada leluhur angin di matanya menyala terang sejak melihat Bayuttara. Ketegangan masa lalu mereka pun menebal.
Terutama setelah dia terus menyebut pembekuan Kuil Api Purba merupakan kesalahan yang harus ditanggung oleh Bayuttara pribadi. Ravankara segera melangkah maju ke tengah arena latihan.
"Aku akan menguji anginmu!" tantang Ravankara memandang tajam pada Bayuttara.
Sementara itu Bayuttara masih berdiri di tepi arena latihan. Namun, dia telah bersiap dengan mengatur napasnya. Kedua tangan Bayuttara bergerak ritmis dalam pola spiral. Dan angin pun menjawab panggilannya dengan berembus membentuk arus lembut di sekitar tubuhnya.
Bayuttara tersenyum tipis memanggil Sulur Nafas Vayu. Jurus itu merupakan jurus andalan Klan Angin meski dia belum sampai tingkatan sempurna.
"Sulur Nafas Vayu … datanglah!" perintah Bayuttara. Angin di sekitarnya menyambut dengan menderu lembut memutar ujung jubahnya.
Sementara itu Ravankara melangkah maju sambil mengepalkan ke dua tangannya. Suara gemeretak nyala api terdengar dan bara merah muncul di genggaman tangannya. Api itu terlihat kuat dan bergerak meliuk-liuk liar seperti mempunyai nyawa sendiri.
"Aku akan tunjukkan padamu, Bayu! Kenapa api tidak bisa dikurung oleh angin pengecut sepertimu!" seru Ravankara.
Bayuttara menatapnya. "Kalau itu yang kau mau, kita buktikan di sini!"
Saat Tetua Maruta memberi aba-aba, Ravankara langsung menyerang. Api dari tangannya menyambar seperti tombak merah. Bayuttara melompat ringan untuk menghindarinya. Tubuhnya kemudian meliuk-liuk mengikuti embusan angin dan memutar Sulur Nafas Vayu untuk memecah serangan.
Wuuuusshhh!
Api itu terbelah! Menyisakan jejak panas di udara.
Ravankara berteriak, "Kau pikir bisa memadamkan apiku?"
"Aku tidak akan memadamkan apimu. Aku hanya menolak dibakar!" sahut Bayuttara.
Angin dan api dengan tegas saling menguji kekuatan. Setiap kali Ravankara melempar bola api, Bayuttara memecahnya dengan pusaran udara. Tetapi terkadang embusan angin itu justru membuat api Ravankara semakin besar. Hal itu membuat Bayuttara harus berpikir cepat untuk mengatasinya.
"Kau kira anginmu bisa memadamkan bara yang sudah diwariskan sejak leluhurku dibekukan?"
"Aku tidak tahu cerita itu! Tapi aku tidak akan biarkan kau membakar Bumi Biru karena masa lalu!"
Sementara itu Nilacandra dan Satyabhumi yang menonton hanya bisa menghela napas.
"Keduanya keras kepala! Ini akan berakhir buruk," kata Nilacandra.
Satyabhumi mengangguk. "Kalau tetua tidak menghentikan mereka, arena latihan ini bisa hangus porak-poranda."
Permainan jurus mereka semakin meningkat. Langkah selanjutnya Ravankara mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk mengeluarkan jurus andalan Klan Api.
“Tombak Surya Bara!” seru Ravankara. Lidah api memanjang seperti tombak merah meluncur ke arah Bayuttara.
Saat membangkitkan jurus itu tubuh Ravankara tidak langsung diselimuti api besar. Tapi sebaliknya, panas api terkonsentrasi pada satu titik, yaitu telapak tangannya. Dari sana, energi unsur api dipadatkan menjadi lidah api memanjang berbentuk tombak cahaya merah keemasan.
Dengan cepat Bayuttara memutar tubuhnya menghindari serangan Ravankara. Gerakan itu memunculkan bentuk angin spiral yang menjulang ke atas. Namun ujung lidah api dari Tombak Surya Bara sempat menyambar pundaknya hingga membuat jubahnya gosong. Bayuttara terhuyung. Dengan sorot mata dingin dia menatap Ravankara.