Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #22

Bab 20. Benturan Angin dan Api

Sinar mentari pagi menembus kabut tipis di lembah Nirantara. Dan di lingkaran batu pelataran Kuil Aksharamandala ke empat calon penjaga unsur berdiri di bawah pandangan para tetua unsur. Mereka bersiap untuk mengikuti latihan pengendalian atau penahanan unsur.

Tetua Angin, Maruta Wisesa, memberi instruksi, “Hari ini ujian lanjutan. Kalian akan menguji unsur masing-masing. Tidak ada kemenangan atau kekalahan. Hanya memahami apa yang terjadi ketika angin, api, air, dan tanah saling bertemu dan berbenturan.”

Namun tatapan mata Ravankara sudah berbeda. Api dendam pada leluhur angin di matanya menyala terang sejak melihat Bayuttara.

Ketegangan masa lalu mereka menebal. Terutama setelah Ravankara terus menyebut pembekuan kuil api purba. Kesalahan itu seolah ditanggung Bayuttara pribadi.

Ravankara segera melangkah maju ke tengah arena latihan. "Aku akan menguji anginmu!" Ravankara memandang tajam pada Bayuttara.

Sementara Bayuttara masih berdiri di tepi arena latihan. Dia pun bersiap dan mengatur napas. Kedua tangannya bergerak ritmis dalam pola spiral. Angin menjawab panggilan Bayuttara. Embusan angin membentuk arus lembut di sekitar tubuhnya.

Bayuttara tersenyum tipis memanggil Sulur Nafas Vayu. Jurus andalan Klan Angin meski belum sampai tingkatan sempurna.

“Sulur Nafas Vayu … datanglah.” Angin di sekitarnya menderu lembut memutar ujung jubahnya.

Sementara itu Ravankara melangkah maju sambil mengepalkan ke dua tangannya. Suara gemeretak nyala api terdengar dan bara merah muncul di genggaman tangannya. Api itu terlihat mempunyai nyawa sendiri. Menari meliuk-liuk liar namun kuat.

“Aku akan tunjukkan padamu ... kenapa api tidak bisa dikurung oleh angin pengecut sepertimu!” seru Ravankara.

Bayuttara menatapnya. “Kalau itu yang kau mau, kita buktikan di sini!”

Saat Tetua Maruta memberi aba-aba, Ravankara langsung menyerang. Api dari tangannya menyambar seperti tombak merah. Bayuttara melompat ringan. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti embusan angin dan memutar Sulur Nafas Vayu untuk memecah serangan.

Wuuuusshhh!

Api itu terbelah! Menyisakan jejak panas di udara.

Ravankara berteriak, “Kau pikir bisa memadamkan apiku?”

“Aku tidak memadamkan apimu. Aku hanya menolak dibakar!” sahut Bayuttara.

Angin dan api dengan tegas saling menguji kekuatan. Setiap kali Ravankara melempar bola api, Bayuttara memecahnya dengan pusaran udara. Tetapi terkadang embusan angin itu justru membuat api Ravankara semakin besar. Hal itu membuat Bayuttara harus berpikir cepat untuk mengatasinya.

“Kau kira anginmu bisa memadamkan bara yang sudah diwariskan sejak leluhurku dibekukan?”

“Aku tidak tahu cerita itu! Tapi aku tidak akan biarkan kau membakar Bumi Biru karena masa lalu!”

Sementara itu Nilacandra dan Satyabhumi yang menonton hanya bisa menghela napas.

“Keduanya keras kepala. Ini akan berakhir buruk,” kata Nilacandra.

Satyabhumi mengangguk. “Kalau tetua tidak menghentikan mereka, arena latihan ini bisa hangus porak-poranda.”

Permainan jurus mereka semakin meningkat. Langkah selanjutnya Ravankara mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk mengeluarkan jurus andalan Klan Api.

Tombak Surya Bara!” seru Ravankara. Lidah api memanjang seperti tombak merah meluncur ke arah Bayuttara.

Saat membangkitkan jurus itu tubuh Ravankara tidak langsung diselimuti api besar. Tapi sebaliknya, panas api terkonsentrasi pada satu titik, yaitu telapak tangannya. Dari sana, energi unsur api dipadatkan menjadi lidah api memanjang berbentuk tombak cahaya merah keemasan.

Dengan cepat Bayuttara memutar tubuhnya. Gerakan itu memunculkan bentuk angin spiral yang menjulang ke atas. Namun ujung lidah api dari Tombak Surya Bara sempat menyambar pundaknya membuat jubahnya gosong. Bayuttara terhuyung. Sorot matanya dingin menatap Ravankara.

Lihat selengkapnya