Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #25

Bab 23. Kebenaran Kelam

Malam harinya Bayuttara duduk sendirian di puncak menara. Angin malam membelai rambut coklatnya yang acak-acakan.

Rasa ragu masih membelenggu hati Bayuttara. Dia tidak pernah tahu tragedi pembekuan Kuil Api Purba. Sementara kata-kata Ravankara terus terngiang di telinganya.

“Klan Luhur Angin adalah pengecut. Leluhurmu memadamkan nyala api suci kami. Mereka membekukan Kuil Api Purba. Mengurung roh-roh penjaga api dalam es yang tidak pernah mencair. Apa kau tidak tahu?”

Bayuttara berusaha menggali ingatannya kembali tapi tetap tidak menemukannya. Dia tidak pernah mendengar cerita tentang Kuil Api Purba itu dari para tetua Desa Tarimaya.

"Yang aku tahu, perang unsur pertama adalah konflik kacau antara semua unsur di Bumi Biru ... dan api memang dianggap sebagai biang kehancuran!" gumamnya.

Bayuttara teringat momen terakhir saat bersama kakeknya, tetua Klan Luhur Angin, sebelum dia berangkat ke Aksharamandala.

“Jangan terlalu percaya pada kisah lama, cucuku. Sejarah selalu diceritakan oleh mereka yang menang,” kata kakeknya.

Namun, kakeknya tidak pernah membahas perang unsur secara rinci. Ada bagian sejarah Bumi Biru yang sengaja disembunyikan.

Bayuttara bergumam lagi pada dirinya sendiri, “Benarkah leluhurku yang memenjarakan api? Atau itu hanya cerita dendam yang diwariskan pada Ravankara?”

Dia menarik napas panjang, "Aku harus menemukan jawabannya!"

Kuil Api Purba, disebut dalam legenda sejarah, merupakan tempat di mana api suci pertama kali menyala di Bumi Biru. Jika memang Klan Luhur Angin terlibat menghancurkan tempat itu, maka generasi penerusnya memikul beban besar.

Saat Bayuttara larut dalam pikirannya, udara di sekelilingnya bergerak pelan. Dari pusaran kecil udara itu muncul bayangan samar siluet kakeknya.

“Kebenaran bukan sesuatu yang ringan, Bayuttara. Ada alasan kenapa api harus dibekukan. Tapi ada sesuatu yang leluhurmu sesali kemudian ….”

Bayuttara terperanjat. “Apa yang kau sembunyikan dari kami, Kakek? Apa aku mewarisi kesalahan masa lalu?”

Tapi bayangan itu segera menghilang, meninggalkan Bayuttara dengan kebingungan yang lebih dalam.

Bayuttara kemudian berdiri dan menatap puncak kuil Aksharamandala. Dia mengepalkan tangan kanannya.

“Kalau aku ingin melindungi keseimbangan Bumi Biru ... aku harus tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Dan aku … harus berhadapan dengan Ravankara tanpa warisan dendam ini,” gumamnya.

***

Malam itu, saat semua penghuni kuil telah kembali ke ruang peristirahatan mereka, Bayuttara diam-diam memasuki Perpustakaan Akar Waktu, ruangan terdalam di Aksharamandala.

Tempat itu menyimpan gulungan sejarah dan catatan para tetua setelah perang unsur. Dindingnya terbuat dari batu hitam berukir dengan nyala lilin biru yang tidak pernah padam.

Bayuttara mencari gulungan dengan lambang spiral angin dan kobaran api, simbol dari perang antara klan angin dan klan api. Saat menemukannya dia membaca potongan catatan yang sudah rapuh.

Api yang tidak terkendali meruntuhkan tujuh lembah. Angin tertua memutuskan untuk membekukan nyala api suci dan menyegel roh api di dalam Kuil Api Purba agar Bumi Biru tidak musnah. Tapi … darah api menjerit dan dendam akan lahir kembali.

Bayuttara mengernyitkan dahinya.

Lihat selengkapnya