Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #23

Bab 21. Pilar Cahaya

Bulan bersembunyi di balik awan tipis. Cahaya redupnya menyinari Lembah Nirantara yang berselimut kabut. Saat itu terdengar bunyi lonceng batu pertama. Gaungnya terdengar berat merambat dipermukaan tanah dan menggema hingga ke pucuk langit.

Semilir angin pun berembus pelan membawa titik-titik embun menyapa calon empat penjaga di Aksharamandala. Mereka berada di sudut tempat yang berbeda-beda.

Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing tanpa saling menyadari bahwa takdir mereka secara perlahan mulai terikat.

Bayuttara berada puncak menara. Tubuhnya diterpa angin malam dari segala arah. Rambut coklat terang miliknya berantakan. Dan mata hijau keabuan itu menatap jauh ke arah cakrawala.

Dia teringat kembali ucapan Ravankara tentang kuil api purba yang dibekukan oleh klan leluhurnya.

“Benarkah angin leluhurku menjadi penyebab kehancuran api mereka? Kenapa cerita ini tidak pernah diceritakan padaku? Apakah aku juga akan jadi musuhnya, hanya karena darahku?” gumam Bayuttara.

Dia mengangkat suling bambu warisan ayahnya. Ditiupnya dengan nada lirih, berharap angin membawa jawaban dari masa lalu.

Tidak jauh dari sana, Nilacandra duduk bersila di permukaan air kolam refleksi yang dikelilingi batu perak.

Cahaya bulan memantul di rambut hitam kebiruannya yang berkilau seperti arus samudera. Dia menyentuhkan jemarinya ke dalam air memanggil gema masa lalu.

“Iramaya ... apakah benar empat unsur tidak bisa bersatu? Aku melihat di mata Bayuttara ada luka. Di mata Ravankara ada api dendam. Bagaimana aku menjaga keseimbangan jika mereka saling membenci?”

Air di permukaan bergetar membentuk bayangan wajah ibunya memberi ketenangan.

Sementara itu, Ravankara masih duduk di bawah pilar api. Ke dua tangannya mengeluarkan api yang menyala tenang. Kata-kata Satyabhumi terus terngiang di kepalanya.

“Satyabhumi bilang aku harus melepaskan dendam ... tapi bagaimana mungkin? Api ini menyala dari rasa sakit leluhurku. Jika aku padamkan, apa yang tersisa dariku?”

Dia menggenggam tangan lebih erat. Di dalam hatinya dia mulai ragu pada jalan yang dipilihnya.

Satyabhumi sendiri berdiri jauh dari pelataran, di taman unsur di bawah pohon Kalpa Agung. Telapak kakinya merasakan getaran bumi. Dia memejamkan mata mendengar suara jauh dari tanah. Suara leluhur, suara keheningan yang kuat.

“Jika tanah bisa menopang air, angin, dan api ... mengapa kita tidak bisa menopang satu sama lain? Aku akan menjaga mereka meski aku harus hancur,” bisik Satyabhumi.

Suasana malam itu di Aksharamandala terasa sunyi. Bulan bersinar redup saat terdengar bunyi lonceng batu kedua yang menandakan malam telah berjalan di dua pertiganya.

Angin berhembus, air beriak, api bergetar, dan tanah bergemuruh samar. Ke empat unsur saling menyapa dalam diam.

Lihat selengkapnya