Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #24

Bab 22. Kita Sudah Tiga

Malam turun perlahan di lembah Nirantara membalut kuil dengan cahaya rembulan yang dingin. Ujian Pilar Cahaya telah usai. Namun, Bayuttara tidak bisa memejamkan mata. Dia duduk di tepi kolam refleksi di Taman Unsur sambil menatap pantulan wajahnya di air yang bergoyang diterpa angin lembut.

Nilacandra datang tanpa suara. Langkahnya sehalus ombak. Dia membawa kendi berisi air laut yang selalu disimpannya sebagai pengingat kampung halamannya di Kepulauan Samayra.

“Kau tidak bisa tidur, Bayu?” sapa Nilacandra pelan.

Bayuttara tersenyum tipis tanpa menoleh. “Angin tidak mau diam malam ini. Kalau aku memejamkan mata, aku merasa melayang jauh meninggalkan tubuhku.”

Nilacandra duduk di sampingnya sambil menaruh kendi air di atas batu datar.

“Air pun tidak selalu tenang. Kadang bergelora hanya karena angin terlalu resah.”

Bayuttara menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Apa yang membuatmu resah, Nila?”

Nilacandra terdiam sebentar sambil menatap permukaan kolam yang memantulkan bentuk bulan.

“Ibuku meninggal saat aku masih bayi. Lautlah yang mengasuhku melalui roh laut tua bernama Iramaya. Kadang aku bertanya-tanya, apa aku akan lebih hangat jika sempat merasakan pelukan seorang ibu?”

Bayuttara menunduk. “Aku juga kehilangan ibuku sejak kecil. Ayahku jarang di rumah. Yang menemaniku hanyalah suara angin di puncak Tarimaya. Kadang aku berpikir … apakah angin itu ibuku yang berbisik agar aku tidak merasa sendiri?”

Keheningan yang panjang menyelimuti mereka. Keheningan itu membawa rasa hangat di hati. Keduanya merasa mengerti satu sama lain tanpa harus bicara banyak.

Nilacandra akhirnya membuka topik yang lebih berat.

“Bayu … ini tentang Ravankara. Aku bisa merasakan luka di dalam dirinya. Sama seperti luka yang kau simpan. Kalian berdua terikat pada kisah lama yang mungkin tidak sepenuhnya benar.”

Bayuttara menghela napas panjang.

“Aku mendengar dia menyebut tragedi Kuil Api Purba. Aku … aku bahkan tidak tahu kebenaran tentang itu. Leluhurku mungkin menyembunyikan sesuatu. Aku takut mencari tahu.”

Nilacandra menatapnya dalam-dalam. Tatapan matanya seperti ombak yang menembus dasar samudera.

“Tidak ada gunanya menghindari masa lalu. Air selalu menemukan jalan untuk kembali ke lautan. Kebenaran selalu mencari permukaan.”

Bayuttara tersenyum tipis. “Kau selalu bicara seperti itu. Tenang tapi menusuk.”

Nilacandra tertawa kecil. Suara tawanya seperti gemericik ombak.

Malam semakin larut. Bayuttara berdiri dan menatap bulan. “Jika aku terlalu keras kepala, kau mau jadi orang yang mengingatkanku?”

Nilacandra menjawab tanpa ragu. “Jika anginmu terhempas terlalu jauh ... biarkan airku menjadi pantai tempatmu pulang.”

Mereka kembali terdiam merasakan keheningan yang semakin hangat seperti angin lembut di permukaan laut.

***

Satyabhumi menyusuri pelataran dengan langkah kaki kokoh. Suasana malam itu terasa berat baginya. Dia melihat Ravankara duduk sendirian di bawah pilar api sedang menyalakan api kecil di telapak tangannya.

Satyabhumi berhenti beberapa langkah di belakangnya.

“Kau selalu menatap api seakan ingin mendengar suaranya,” sapa Satyabhumi.

Lihat selengkapnya