Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #26

Bab 24. Nasihat Untuk Api

Malam itu terasa begitu berat bagi Bayuttara setelah perkelahiannya dengan Ravankara dihentikan paksa oleh Nilacandra dan Satyabhumi. Dia juga tidak bisa memejamkan mata bahkan dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena api Ravankara melainkan oleh kebenaran kelam yang baru saja dia lihat di Menhir Sungsang.

Bayuttara berjalan menyusuri tepian halaman kuil menuju tebing yang menghadap ke lembah Nirantara. Angin malam berembus pelan terasa dingin di kulitnya. Namun, tidak cukup kuat untuk menenangkan gejolak di dalam dirinya.

Bayuttara sampai di tepi tebing dan saat itu dia mendengar langkah kaki ringan mendekati dirinya. Nilacandra datang. Rambutnya tergerai diterpa angin malam. Tatapan matanya teduh namun tajam.

"Aku tahu kau belum tenang, Bayu ...," sapa Nilacandra, "Wajahmu menyimpan lebih dari sekadar amarah saat perkelahianmu tadi," lanjutnya.

Bayuttara menoleh pelan berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.

"Aku melihat sesuatu di dasar kuil ... di Menhir Sungsang. Rahasia yang mungkin sengaja disembunyikan oleh klanku." Bayuttara menunduk. Ke dua tangannya bergetar.

"Ravankara benar! Leluhurku bukan hanya berperang. Tapi mereka membekukan Kuil Api Purba. Mereka menghukum seluruh klan api dengan dingin yang abadi. Itu bukan cerita yang diwariskan kepadaku. Selama ini aku hanya diajari bahwa api-lah biang dari semua kehancuran," lanjutnya.

Suara Bayuttara pecah, "Aku malu, Nila! Malu! Karena darahku membawa beban itu. Dan aku tidak tahu apakah aku bisa memandang Ravankara tanpa merasa bersalah."

Nilacandra diam sejenak. Dia menatap Bayuttara dengan kelembutan seorang yang juga pernah kehilangan sesuatu yang sangat penting.

"Bayu … aku mengerti. Air pun punya sejarah kelamnya sendiri. Darahku juga membawa luka. Tapi apakah kita akan terus hidup dengan dosa leluhur? Kita belajar dari mereka agar luka itu tidak terulang lagi!"

Nilacandra melangkah lebih dekat. Nada suaranya tegas namun hangat, "Ravankara marah bukan hanya pada leluhurmu tapi pada sejarah itu sendiri. Dan kau, Bayu ... justru punya kesempatan untuk memperbaiki. Jangan biarkan warisan masa lalu menghancurkan persahabatan yang belum sempat tumbuh."

Angin di sekitar Bayuttara mereda. "Kau tahu bagaimana menenangkan badai dalam diriku. Kau bisa membaca hatiku, Nila." kata Bayuttara lirih sambil menatap lama pada Nilacandra.

Nilacandra tersenyum tipis. Sementara matanya memantulkan cahaya bulan.

"Karena kita sama, Bayu. Kita berdua kehilangan ibu sejak kecil. Kita tahu bagaimana rasanya membawa luka yang bukan salah kita. Dan justru karena itu kita harus menjaga agar luka orang lain tidak tumbuh jadi perang baru."

Bayuttara menutup matanya sejenak lalu menarik napas panjang. Beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Malam itu mereka berdiri berdua di tepi tebing memandang bintang-bintang yang bertabur di langit Aksharamandala. Tidak ada sumpah resmi. Mereka hanya diam dan membawa janji bahwa keduanya akan saling menopang betapapun berat rahasia dan dendam masa lalu yang mereka pikul.

***

Sementara itu di sisi Aksharamandala yang lain, Ravankara duduk di bawah pilar api. Dia tampak termenung. Pandangan matanya menerawang jauh menembus kerlip bintang di langit malam.

Semilir angin dingin berembus pelan membawa aroma dedaunan pohon hutan dari lembah Nirantara. Ravankara menghela napas panjang sambil mengangkat tangannya setinggi dada.

Dia mengalihkan pandangan matanya ke tangan. Api kecil muncul dari sana. Nyalanya berkilat-kilat tidak tenang. Cahaya jingga dari api itu memantul di mata Ravankara yang merah menyala. Menandakan gelombang amarah yang belum mereda.

"Bayuttara … anak angin itu. Dia pikir aku bisa melupakan cerita kelam itu. Dan sejarah bisa dihapus begitu saja," gumam Ravankara.

Bayangan perkelahiannya dengan Bayuttara sore tadi muncul kembali. Dia teringat pada tatapan mata Bayuttara yang tajam dan tidak goyah, walau sudah dikepung kobaran api. Ada sesuatu yang membuat Ravankara semakin muak. Yaitu keteguhan Bayuttara yang mirip dengan kesombongan para leluhur klan angin.

Lihat selengkapnya