Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #29

Bab 27. Sumpah Empat Penjaga

Pusaran api mulai mengecil dan dunia ilusi Ravankara mulai retak. Terdengar ledakan terakhir meredupkan nyala api.

Reruntuhan Kuil Api Purba pun lenyap. Ravankara jatuh berlutut di lantai batu pelataran kuil membelakangi pilar api. Sedangkan api di tangannya tinggal bara kecil yang meredup.

Bayuttara berdiri di tengah lingkaran batu beberapa langkah di depan Ravankara dengan napas berat. Saat itu hanya terdengar desir angin menerbangkan debu-debu di pelataran.

Ravankara menatap Bayuttara lama dengan tatapan mata yang berbeda dari biasanya. Tidak ada serangan dan tidak ada teriakan.

Ravankara berdiri perlahan. "Kau tidak membekukannya?"

Bayuttara menggeleng. "Aku bukan leluhurku."

Ravankara menunduk dan mengepalkan tangannya.

"Nila dan Satya .… mereka telah datang padaku," kata Ravankara. Bayuttara hanya diam.

"Mereka bilang aku harus mengesampingkan dendamku dan menjadi sahabat kalian," lanjut Ravankara kemudian tertawa kecil.

"Tapi aku belum bisa. Kalian jangan berharap terlalu jauh padaku. Tapi setelah ini aku tahu satu hal."

Bara di mata Ravankara terasa meredup. Sementara Bayuttara masih diam menunggu.

"Kau memang bukan leluhurmu," lanjut Ravankara lirih. Angin di ruangan itu terasa lebih ringan.

Bayuttara hanya mengangguk pelan kemudian berkata, "Dan kau … bukan sekadar api yang harus ditakuti."

Ravankara mendengus tapi tidak membantah. Mereka berdiri dalam diam bukan sebagai musuh dan belum juga sebagai sahabat. Tapi untuk pertama kalinya mereka bisa berdiri di sisi yang sama meski masih dipisahkan oleh bayangan masa lalu.

***

Kabut tipis masih menggantung di bawah pepohonan di Taman Unsur. Angin malam pun berembus membawa aroma dupa dan tanah basah.

Nilacandra dan Satyabhumi muncul dengan langkah cepat dari arah lorong kuil. Napas mereka memburu. Mata mereka langsung tertuju pada bekas kobaran api di tengah lingkaran batu. "Apa yang telah terjadi di sini?" tanya Nilacandra.

Satyabhumi mendekat dengan gestur tubuh lebih waspada. "Ravankara, kau kehilangan kendali lagi?"

Ravankara hanya memandang Satyabhumi. Dia menghela napas panjang sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah Bayuttara lalu ke Nilacandra. Keheningan turun sejenak melingkupi mereka berempat.

"Aku melihatnya lagi ... Kuil Api Purba. Malam itu ...," Ravankara membuka pembicaraan. Namun, dia menghentikan sebentar omongannya.

Ketiganya saling melempar pandangan dan masih diam menunggu.

"Kalian benar. Api memang tidak terkendali saat itu. Tapi pembekuan itu ...," kata Ravankara kemudian sambil melempar pandangan ke arah Bayuttara.

"... tetap kesalahan Klan Angin!" lanjutnya.

Bayuttara mengangguk pelan. Dia tidak membantah.

"Aku tahu," sahut Bayuttara dengan cepat. Jawaban itu membuat Ravankara terdiam.

Lihat selengkapnya