Bunyi lonceng batu terdengar bagai detak nadi yang merambat di dinding kuil. Bergema samar hingga ke batas cakrawala.
Tiga hari kemudian para tetua kembali mengumpulkan ke empat penjaga dipelataran kuil. Mereka berdiri membelakangi pilar unsur masing-masing di tengah arena latihan yang berupa lingkaran besar.
Para tetua menyebut latihan kali ini sebagai ujian "Cermin Jiwa". Sebuah ujian yang tidak mengukur kekuatan masing-masing unsur. Tetapi keberanian untuk menatap bayangan terdalam dari masa lalu mereka.
Ke empat tetua berdiri jauh dari lingkaran besar. Tetua Maruta berbicara dengan suara berat, "Cermin Jiwa tidak menipu. Dia akan menunjukkan luka yang kalian sembunyikan. Kalian harus berdamai dengan bayangan itu … atau tenggelam di dalamnya."
Di belakang mereka empat pilar unsur menjulang tinggi dan berdiri kokoh. Pilar tanah berupa batu berlumur lumut. Pilar air berupa batu yang dari puncaknya mengalir air seperti tirai.
Pilar api berupa batu yang menyala biru tapi tidak panas. Sedangkan pilar angin berupa batu yang diselubungi angin berputar membentuk pusaran tipis.
Masing-masing pilar itu tampak bergetar pelan. Puncak pilar memancarkan cahaya warna-warni sesuai unsurnya. Ke empat tetua mengangkat tangannya bersamaan untuk mengendalikan cahaya warna-warni tersebut.
Cahaya itu kemudian menyatu menjadi permukaan cermin raksasa dan bergerak turun ke lantai batu di tengah lingkaran. Ke empat penjaga serentak mengalihkan pandangannya ke cermin.
Bayuttara menatap permukaan cermin raksasa dengan jantung berdebar. Dia melihat bayangan masa kecilnya di Tarimaya. Ibunya yang lemah meninggal saat badai besar melanda. Dia juga melihat angin besar yang menghancurkan Kuil Api Purba disertai wajah-wajah Klan Luhur Angin yang berteriak bahwa "api adalah ancaman."
Bayuttara berbisik, "Jadi … ini benar? Klan kami yang menghancurkan rumah leluhur Ravankara?"
Nilacandra melihat cermin dengan sorot mata dingin tapi ke dua tangannya sedikit bergetar. Di cermin itu dia melihat laut merah pada malam ibunya tenggelam. Di sampingnya berdiri Iramaya, roh tua penjaga laut.
Iramaya berbisik, "Kau masih takut kehilangan Tirta Indriya. Air mengalir karena keberanian melepaskan. Bisakah kau lepaskan rasa takutmu?"
Nilacandra menggigit bibir untuk menahan air matanya.
Satyabhumi memejamkan mata menyiapkan tubuhnya untuk menerima benturan emosi saat melihat ke dalam cermin itu.
Dia melihat wajah ayahnya yang keras mengajarinya bahwa tanah tidak boleh menyerah pada apa pun. Tapi di balik itu dia melihat bayangan dirinya sendiri sedang berdiri sendiri di padang tandus.
"Aku terlalu takut gagal … takut tidak bisa menopang semuanya," gumamnya.
Sementara Ravankara menatap cermin itu dengan sorot mata merah menyala. Dia melihat masa lalu terburuknya. Kuil Api Purba yang membeku dan leluhurnya terkurung dalam angin es yang tidak pernah mencair.
Selain itu Ravankara juga mendengar teriakan para tetua api, "Pengkhianatan Bayu!"
Bayangan itu memelintir wujud Bayuttara di cermin menjadi sosok musuh. Ravankara mengepalkan tangannya.
"Ini salah mereka. Angin telah merampas semuanya …!"
***
Setelah memperlihatkan bayangan masa lalu pada ke empat penjaga, cermin raksasa pecah menjadi empat bayangan raksasa yang menyerang mereka. Serangan itu wujud dari ketakutan terdalam dari diri mereka masing-masing.
Bayuttara berhadapan dengan badai angin hitam. Nilacandra melawan lautan darah. Satyabhumi dihadang tanah retak yang menelan segalanya. Sedangkan Ravankara menghadapi nyala api berbentuk wajah leluhurnya yang berteriak dendam.
Ravankara tidak bisa menahan diri. Dia menoleh ke arah Bayuttara dan berteriak, "Inilah yang kalian lakukan! Klan Angin membekukan kuil kami. Aku akan membakar semua anginmu!"
Bayuttara terdiam. Rahangnya menegang. Untuk pertama kali dia tidak melawan tapi hanya berkata lirih, "Aku baru tahu, Ravankara. Aku minta maaf atas leluhurku. Tapi aku bukan mereka!"
Satyabhumi berteriak, "Cukup! Kita tidak bisa lulus ujian ini jika saling membenci. Bayangan ini bukan untuk dibunuh. Tapi untuk diterima!"