Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #28

Bab 26. Api yang Tidak Terkendali

Malam itu angin dari Lembah Nirantara berembus lembut ke pelataran Kuil Aksharamandala. Langit malam pun tampak cerah. Sementara cahaya bulan memantul di lantai batu yang lembap menimbulkan kilau redup menembus kabut tipis yang menggantung rendah.

Setelah terlibat percakapan yang berat, Satyabhumi dan Ravankara masih berada di pelataran kuil. Mereka berdiri sejajar memandang langit malam dan saling diam. Ravankara terlihat lebih tenang meski bara dalam dirinya belum juga padam.

Nilacandra muncul dari arah kolam refleksi. Jubah biru laut yang dikenakan berkilau diterpa sinar bulan. Sementara langkah kakinya ringan di antara desir angin. Dia berhenti beberapa langkah di belakang Satyabhumi dan Ravankara.

"Aku mendengar suara kalian dari kejauhan. Jadi aku datang ke sini. Aku merasa malam ini terlalu sepi untuk dilalui sendirian," sapa Nilacandra.

Satyabhumi menoleh dan tersenyum tipis. Sementara Ravankara hanya diam sambil memandang ke arah lain.

"Kami hanya bicara sedikit tentang masa lalu, Nila," sahut Satyabhumi.

Nilacandra kemudian menatap Ravankara dengan sorot mata penuh rasa ingin memahami.

"Aku tahu ini bukan saat yang tepat, Ravankara. Tapi kita datang ke sini dengan tujuan yang sama. Jadi ... aku ingin kita bisa bekerja sama."

Ravankara mendengus. Suara hatinya masih diliputi oleh dendam.

"Kau mudah bicara, Nila. Masa lalu tidak bisa dikubur begitu saja. Aku punya api yang terlalu lama ditahan!"

Nilacandra melangkah maju. Suaranya lembut tapi penuh kekuatan.

"Aku pun punya masa lalu. Lautku menyimpan ribuan kisah kehilangan. Ibuku meninggal saat aku belum mengerti apa arti kata 'kehilangan'. Tapi aku tahu bahwa Aksharamandala ada untuk menyembuhkan luka kita. Bukan untuk menggarami luka lama."

Dia menatap Ravankara dengan mata abu-abu keperakan yang dingin tapi jujur.

"Kita bukan musuh. Kita empat unsur yang harus seimbang. Tanpa kau, api tidak akan punya bentuk. Tanpa Bayuttara, angin tidak akan bernyawa. Tanpa Satyabhumi, tanah tidak akan punya pondasi. Dan tanpa aku, air tidak akan menemukan alurnya," lanjut Nilacandra.

Dia menghela napas panjang. "Bayangkan jika kita bisa menjadi sahabat. Bukan sekadar penjaga unsur tapi satu kekuatan. Maukah kau mencobanya, Ravankara? Tidak untuk melupakan masa lalumu. Tapi untuk memberimu masa depan yang berbeda."

Ravankara terdiam lama. Ada sesuatu dalam suara Nilacandra yang membuat bara di dadanya meredup.

"Aku tidak berjanji! Tapi … aku akan mencoba untuk mendengarkanmu, Nila."

"Itu sudah cukup untuk malam ini," sahut Satyabhumi tersenyum lebar sambil menepuk bahu Ravankara dengan hangat.

Sebuah rasa baru lahir di antara mereka yaitu ikatan yang menjanjikan kebersamaan meski masih terasa rapuh.

Satyabhumi melangkah pelan meninggalkan lingkaran batu diikuti Nilacandra di sampingnya. Namun, baru beberapa langkah mereka berhenti dan menoleh ke belakang.

Lihat selengkapnya