Aksharamandala

bomo wicaksono
Chapter #30

Bab 28. Harmoni Empat Unsur

Matahari pagi menyinari pelataran utama Aksharamandala. Sinarnya melukis bayangan panjang empat pilar unsur di lantai batu.

Angin berembus pelan menggoyang dedaunan di taman unsur. Ke empat tetua Aksharamandala tampak berjalan pelan menuju pelataran. Mereka berdiri dalam diam di tengah lingkaran empat pilar unsur.

Suasana terasa berat namun juga sarat dengan harapan. Hari itu para tetua memanggil ke empat penjaga muda untuk latihan gabungan lagi. Dalam latihan tersebut empat penjaga muda diminta untuk menyatukan kekuatan mereka kembali. Para tetua diam-diam ingin menguji ikatan sumpah mereka.

Tetua Maruta membuka pembicaraan, "Harmoni tidak hanya lahir dari kekuatan tapi dari hati yang bersatu. Hari ini kalian akan melakukan teknik gabungan. Jika gagal, kalian hanya akan saling melukai. Jika berhasil … kalian akan melihat kekuatan sejati Aksharamandala."

Tetua Teja menambahkan. Dia bersuara serak seperti bara yang berdesis.

"Kalian sudah menghadapi bayangan masa lalu di cermin jiwa. Kini saatnya melihat masa depan. Bersiaplah!"

***

Bayuttara berdiri di sisi timur lingkaran di depan pilar angin. Rambutnya berkibar tertiup angin. Nilacandra di sisi barat di depan pilar air dengan jubah biru laut yang berkilau lembut.

Sementara Ravankara di selatan di depan pilar api. Mata merah tembaganya memancarkan semangat menyala. Dan Satyabhumi di sisi utara di depan pilar tanah. Dia kokoh bagai gunung dengan telapak kakinya terasa menancap di tanah.

Mereka saling bertukar pandangan dan mengingat kembali sumpah di bawah Pohon Kalpa Agung. Kini saatnya mereka membuktikan ikatan sumpah itu.

Tetua Sindhu mengangkat tongkatnya dan menjejakkan ke lantai batu. Benturan itu menimbulkan getaran yang merambat di bawah kaki mereka dan membentuk pola mandala bercahaya di tengah lingkaran.

"Bayuttara, jadilah napas yang memulai bergerak. Nilacandra, jadilah arus yang mengalirkan irama. Ravankara, jadilah bara yang memberi tenaga. Dan Satyabhumi, jadilah pijakan yang kokoh," kata Tetua Sindhu.

Bayuttara memejamkan mata dan dadanya mengembang perlahan. Dia memanggil Sulur Nafas Vayu. Angin pun membentuk pusaran yang lembut.

Nilacandra menanggapi dengan Mantra Air Memori. Dia mengalirkan arus biru yang berputar mengikuti arah angin.

Ravankara menutup mata. Lalu dengan satu gerakan tangan dia melepaskan Nyala Surya Bara membuat percikan api yang tidak membakar tapi memanaskan pusaran itu.

Sedangkan Satyabhumi dengan Gema Akar Bumi menstabilkan tanah di bawah mereka sehingga membuat simbol mandala di lantai batu bercahaya semakin kuat.

Namun harmoni itu tidak bertahan lama. Api Ravankara terlalu liar hingga membuat pusaran angin Bayuttara tidak terkendali. Air Nilacandra pun memercik tidak beraturan dan tanah Satyabhumi menjadi retak.

“Kau mengembuskan angin terlalu cepat, Bayu!” teriak Ravankara.

Lihat selengkapnya