Awan tipis bergerak pelan di langit biru. Daun-daun pepohonan di Taman Unsur bergoyang lembut. Sinar mentari pun menerobos di sela-sela rantingnya dan memantul di lantai batu hitam pelataran kuil.
Empat murid yang baru bersumpah berdiri berjejer di sisi arena lingkaran batu hitam. Dan dari ruang khusus di Menara tinggi empat tetua utama Aksharamandala bersama para tetua lainnya mengamati mereka tanpa suara.
Seorang Instruktur keluar dari gerbang utama menghampiri mereka dan meminta mereka untuk menyatukan ke empat kekuatan dalam satu gerakan bersama.
"Bangun pelindung unsur empat arah. Satu arah untuk satu kekuatan. Jangan saling menyaingi. Dengarkan, rasakan, dan seimbangkan!" perintah sang instruktur.
Bayuttara paling dulu bergerak. Dengan satu gerakan cepat dia memutar tubuhnya dan menciptakan pusaran angin kecil yang berputar mengelilingi mereka.
"Kalau aku mulai, siapa yang berani lanjut?" katanya dengan senyum jahil.
Satyabhumi mengangguk tanpa banyak bicara. Dia lalu menginjak tanah dengan kaki telanjang. Tanah bergetar pelan dan dari pusat lingkaran lantai batu hitam tumbuh bongkahan batu datar menstabilkan pusaran angin Bayuttara tanpa mematikannya.
Nilacandra memperhatikan semua itu lalu mengangkat tangannya perlahan. Dia mengumpulkan molekul-molekul air dari udara. Kabut mulai terbentuk di sekeliling pusaran dan menyerap kelebihan energi liar dari angin.
Ravankara yang terakhir. Dia mengangkat kedua telapak tangannya. Sekejap api tipis muncul di antara jari-jarinya. Dia menahannya dengan susah payah agar apinya tidak menyambar pusaran angin Bayuttara.
Akhirnya api itu hanya menari di batas pusaran dan tidak membakarnya. Mereka berhasil. Ke empat unsur tidak saling menolak.
Bayuttara menoleh ke arah Nilacandra saat pusaran anginnya menyentuh kabut yang dia bentuk.
"Kamu bisa menenangkan anginku," katanya dengan bola mata membesar. Nilacandra hanya tersenyum kecil.
"Aku rasa anginmu terlalu sombong selama ini," sahut Nilacandra.
Sementara itu Satyabhumi duduk bersila di tengah lingkaran energi mereka.
"Ini resonansi. Empat arah, satu kehendak," katanya.
Ravankara tidak bicara. Dia menatap api kecil yang menari di ujung jarinya lalu menoleh ke arah Nilacandra yang sedang menatap air di telapak tangannya.
Nadi terasa berdetak dan tarikan napas memenuhi rongga dada Ravankara. Mereka saling menoleh bersama dan beradu pandangan. Tidak ada kata. Hanya sorot mata yang cukup dalam dan membekas di hati.
Setelah latihan, mereka duduk di bawah Pohon Kalpa Agung.
"Aku rasa ... kita punya sesuatu yang lebih besar dari latihan ini," kata Satyabhumi pelan.
"Kekuatan?" tanya Nilacandra.
"Bukan! Kepercayaan!" jawab Satyabhumi.
Para tetua bertepuk tangan pelan ketika latihan usai. Tapi sebagian dari mereka mulai berbisik-bisik.