Hujan rintik mengetuk kaca jendela.
Kamar rumah sakit itu terlalu sepi. Saking sepinya, Riska bisa mendengar detik jam di dinding.
Lalu kalimat itu muncul.
Bukan di kaca. Bukan di layar. Kalimat itu melayang begitu saja di depan matanya, seolah ditulis langsung di retinanya.
Di akhir cerita, putri kandung keluarga itu tidak kuat menahan tekanan. Dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi tidak satu pun dari Keluarga Suryaningrat yang benar-benar berduka. Clarissa justru datang menghibur orang tuanya, lalu mengusulkan agar pertunangannya dengan Keluarga Pratama dipercepat. Perlahan, senyum kembali terlihat di wajah mereka.
Hurufnya luntur perlahan, seperti tinta yang terkena air.
Gelap lagi.
Lalu sebuah suara mengisi kekosongan itu. Dekat sekali. Seperti datang dari dalam kepalanya sendiri.
Dingin. Datar.
"Sisa waktumu dua puluh sembilan hari delapan belas jam. Tenagamu hampir habis karena perpindahan kemarin. Jika ingin hidup lebih lama, kamu harus menulis. Satu detak jantung pembaca sama dengan satu detik tambahan untukmu."
Riska mengangkat tangan.
Dia membalikkan telapak tangannya menghadap wajah. Urat halus kebiruan terlihat di bawah kulit tipis. Darahnya hangat. Jantungnya berdetak jelas.
Hidup.
Jadi begini rasanya hidup.
Ingatan lama menyeruak begitu saja. Gerbang Escape Game yang terbuka satu per satu. Deretan Player masuk dengan wajah penuh harap, lalu keluar tanpa nyawa. Bertahun-tahun dia hanya menjadi boneka yang menjalankan perintah Penguasa tanpa pernah boleh bertanya mengapa.
"Aku muak di sana."
"Aku tahu. Aku sudah memperhatikanmu sejak awal. Aku yang memberimu kesadaran dan membantumu kabur. Tapi perpindahan ini berat. Aturan dunia ini ketat. Jika kita ceroboh, kita bisa hilang."
Sudut bibir Riska tertarik tipis. Hampir tidak terlihat.
"Setidaknya aku bebas sekarang. Bagaimana cara mengubah cerita itu?"
"Tulis kisah yang menyentuh hati orang. Semakin banyak yang percaya, semakin besar kekuatan yang kembali. Seribu dua ratus detak jantung sama dengan satu hari tambahan."
"Paham."
Ingatan pemilik tubuh ini meresap masuk perlahan.
Anak kandung Keluarga Suryaningrat yang tertukar sejak lahir. Dibesarkan di desa terpencil bernama Nglorok. Dua bulan lalu dia ditemukan dan dibawa pulang.
Tidak ada pelukan haru. Yang ada hanya tatapan dingin, bisik pelayan di belakang punggung, dan Clarissa. Gadis yang selama dua puluh tahun dibesarkan di keluarga itu. Yang selalu punya cara untuk membuatnya terlihat salah.
Yang paling membekas adalah kejadian seminggu lalu.
⟻⟻⟻⟼⟼⟼