Riska tetap makan pelan-pelan. Sendok terangkat dan turun dengan ritme yang sama, seolah tidak ada tiga pasang mata yang menusuk dari seberang meja.
Ibu menghela napas, menahan sesuatu yang mengganjal di dada. Kurang senang, tapi tidak sampai hati untuk menegur keras. Riska tetap darah dagingnya sendiri, baru kembali setelah dua puluh tahun hilang.
Ayah tidak punya keraguan yang sama. Sendoknya diletakkan di tepi piring, bunyinya cukup keras untuk menarik perhatian.
"Kamu dan Clarissa sama-sama putri keluarga ini." Suaranya tegas. "Jangan selalu menganggap dia saingan. Clarissa tidak berutang apa pun kepadamu. Banyak hal yang bisa kamu pelajari dari dia."
Riska diam sejenak. Kalimat itu dibiarkannya mengendap dulu sebelum dijawab.
"Aku tidak memusuhi dia." Sendok dan garpu diletakkan pelan di tepi piring, membentuk sudut yang rapi. "Aku juga mau menulis novel. Nanti jika sudah jadi, kalian bisa baca sendiri."
Hening sesaat. Hanya bunyi sendok Kadir yang berhenti di udara.
Bagi Riska sendiri, itu hanya pernyataan biasa. Tapi bagi mereka yang tahu Clarissa sudah lebih dulu menulis buku terkenal, kalimat itu terdengar seperti tantangan terselubung. Dan Riska sama sekali tidak berusaha meredam kesan itu.
Kadir tersenyum tipis, mencairkan suasana dengan cara khasnya.
"Ya sudah, jangan dipikirkan serius. Menulis buku tidak semudah yang kamu bayangkan." Dia menggenggam gelas air, meminumnya seteguk sebelum melanjutkan. "Jangan hanya melihat Clarissa sukses. Nyatanya banyak tulisan yang tidak ada yang membaca."
"Lagipula, kamu tidak terbiasa membaca banyak buku, dan kamu dibesarkan di desa." Nada suaranya melunak, hampir seperti nasihat kakak sungguhan. "Lebih baik cari pekerjaan yang lebih jelas. Kamu anak Keluarga Suryaningrat, memang tidak wajib bekerja, tapi setidaknya cari sesuatu yang bisa membuat kamu sibuk."
Ayah dan Ibu diam-diam mengangguk setuju. Sendok mereka kembali bergerak, tidak ada yang menyambung topik itu lagi.
Riska tidak terlalu peduli dengan penilaian mereka. Toh nama pena belum ditentukan. Masih ada waktu untuk memberi tahu nanti, setelah beberapa bab jadi. Atau lebih baik diam saja, biar mereka kaget sendiri suatu hari nanti.
Selesai makan, dia langsung naik ke kamar. Percakapan tadi masih menggantung sebentar di kepalanya, tapi begitu duduk di depan komputer dan layar menyala, semuanya lenyap. Digantikan satu tujuan tunggal: menulis. Kamar ini luas, mewah, lengkap dengan segala yang orang lain impikan. Tapi kulitnya masih merasa asing di sini, seperti baju pinjaman yang belum pas ukurannya.
Suara itu muncul lagi, kali ini lebih dekat.
"Aku sudah menyiapkan rekomendasi situs sastra paling populer di sini. Namanya Pustaka Nusantara. Pembacanya banyak dan sistemnya mudah."
Jarinya mengikuti petunjuk itu, mendaftar memakai nomor ponsel. Kursor berkedip lama di kolom nama pena, menunggu.
Cebong Hanyut di Angkasa.
Aneh. Nyentrik. Susah dilupakan begitu dibaca sekali.
"Bagus, terdengar unik. Tapi ada saran dari aku, belakangan ini Pustaka Nusantara sedang memprioritaskan cerita cinta. Penulis baru lebih mudah mendapat perhatian jika mengikuti arus ini. Bagaimana jika kamu coba tulis kisah cinta yang manis?"
Riska mengangguk pelan. Entitas itu tidak akan memberi saran yang buruk. Digulirnya sebentar daftar judul yang sedang di peringkat atas, penuh kata cinta, takdir, abadi, lalu kembali ke halaman kosong dan mengetik judul bukunya sendiri:
Tahun-Tahunku Menjadi Penguasa Permainan Maut.