Aku Akan Menulis Akhir Mereka

Stalingrad
Chapter #4

⟻⟻⟻ Ch. 4 ⟼⟼⟼

Payung kecil terkembang begitu Riska melangkah keluar rumah. Udara pagi masih basah bekas hujan semalam, menempel di kulit seperti selaput tipis.

Begitu dia hilang di ujung gang, Basori langsung meraih ponsel dari saku, jarinya mengetik cepat mencari nama pena itu. Kosong. Tidak ada satu pun hasil yang muncul.

Rahangnya mengeras. Berani-beraninya memberi nama palsu hanya untuk mengerjai aku.

"Penulis baru memang jarang muncul di pencarian umum," ucap Kadir dari seberang meja, tanpa perlu ditanya sudah paham apa yang membuat adiknya cemberut. "Jika kamu benar-benar ingin membaca, lebih baik langsung masuk ke situs Pustaka Nusantara dan cari namanya di sana."

"Benar juga." Basori mendengus. "Tidak semua orang bisa sepopuler Clarissa. Namanya saja langsung muncul di mana-mana begitu dicari."

Jarinya sudah lebih dulu membuka situs itu sebelum kalimatnya selesai. Diketiknya: Cebong Hanyut di Angkasa.

Layar memuat dengan lambat. Basori sendiri sudah lama menjadi pembaca setia di sana, salah satu penggemar berat Clarissa, masuk daftar penyumbang terbesar ketiga di halaman novel gadis itu. Begitu halaman terbuka, senyumnya semakin lebar.

Akun baru. Terbit tadi malam jam sembilan. Enam ribu kata. Belum ada komentar. Belum ada suka. Tiga kali diklik.

Sepi sekali.

Dia terkekeh, lalu menggeser jari ke halaman utama, mencari karya terbaru Clarissa. Puluhan ribu suka, padahal kata-katanya belum sampai seratus ribu. Kolom komentar penuh pujian bersahutan. Dadanya membuncah bangga. Itu saudara perempuannya.

Ditandainya novel Clarissa sebagai favorit. Punya Riska hanya masuk daftar baca, sekadar agar mudah dicari nanti.

Dibayangkannya wajah Riska begitu membuka akunnya sendiri dan hanya menemukan satu suka, itu pun pasti dari orang yang kasihan. Bayangan itu saja sudah membuatnya tidak sabar mulai membaca.

Judulnya saja sudah terdengar murahan.

Dia siap-siap mengejek, tapi memutuskan kembali dulu ke cerita Clarissa. Baru dua paragraf, dia berhenti. Alisnya naik.

Sudut pandang orang pertama?

Dasar bodoh. Masa ada cerita bagus ditulis seperti ini.

Tapi dilanjutkannya juga.


⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Beberapa hari lalu, nenek yang membesarkanku meninggal. Hatiku hancur. Aku menguburnya sendirian dan merasa sangat sepi di dunia ini. Orang tuaku sudah lama tiada, dan nenek satu-satunya keluarga yang kumiliki.

Tapi tidak lama setelah itu, orang tua kandungku yang dulu dikira meninggal tiba-tiba datang menjemput. Mereka bilang aku tertukar saat lahir. Aku bingung. Aku tinggal jauh di pedalaman, bagaimana mungkin bisa tertukar dengan bayi di kota besar?

Tapi karena aku sendirian dan tidak punya tempat berlindung, aku ikut mereka. Aku berharap mendapat kasih sayang keluarga. Tapi begitu sampai di sini, mereka berubah dingin dan terus menuduh aku menyakiti putri yang selama ini mereka asuh.

Suasana di rumah ini semakin mencekam setiap hari. Membuat sesak napas. Aku selalu curiga, apakah orang-orang yang terlihat ramah tapi bermuka dua ini sebenarnya bukan manusia sungguhan? Apakah mereka diam-diam akan berubah menjadi makhluk mengerikan di malam hari untuk memakanku?

Tapi lama-lama aku sadar mereka memang manusia biasa. Meski kejam. Aku tidak mengerti mengapa mereka membawa aku pulang padahal jelas-jelas membenci. Apakah ada anggota keluarga yang sakit parah dan butuh organ tubuhku? Aku takut sekali.

Lebih baik aku menderita sedikit daripada harus kehilangan nyawa...


⟻⟻⟻⟼⟼⟼


Rahang Basori mengencang. Tawanya sinis, tapi telinganya panas.

Lihat selengkapnya