BUGH!
Tubuh Revian terpental dan jatuh keras ke lantai, kedua lengannya refleks memeluk perutnya. Napasnya tersengal, batuknya pecah menahan rasa sakit yang menjalar dari tendangan Naren, kakak tirinya.
Naren terkekeh puas. Dengan santainya, ia mendorong tubuh Revian agar telentang menggunakan ujung kakinya. Begitu posisi Revian terbuka, Naren menancapkan telapak kakinya ke dada Revian, menekannya perlahan namun penuh ancaman.
"Heh, anak Gundik kayak Lo. Emang pantes diperlakuin kayak gini..."
Revian mencoba mengatur napas, berusaha menahan sesak di dadanya. Tangannya terangkat, menggenggam kaki Naren yang menginjaknya.
"Gundik? Sehina itu, Ibu gue dimata lo?"
Pertanyaan itu justru membuat Naren semakin menekan kakinya. Nafas Revian tersedak, batuknya makin kuat. Ia memukul-mukul kaki Naren, berharap tekanan itu berkurang—tapi Naren justru menikmati penderitaannya.
"Iya, Gundik! Karena Ibu Lo yang jalang itu, nyokap sama bokap gue pisah anjing!"
Teriakan Naren menggema di ruangan olahraga yang kosong. Emosinya meledak. Dan tanpa menunggu, dia kembali menendang tubuh Revian—lebih brutal dari sebelumnya.
Dua teman Naren yang dari tadi hanya menonton langsung panik melihat Naren makin kalap. Mereka cepat-cepat menariknya ke belakang.
"Heh, Naren udah anjing! Dia bisa mati kalo lo kalap gitu woy!"
Naren terengah, tapi masih sempat menyeringai ke arah Revian yang meringkuk tak berdaya. Perlahan, dia kembali mendekat, lalu meraih rambut Revian dan menariknya kasar hingga wajah Revian mendongak kesakitan.
"Dengerin gue, sampai kapanpun gak akan gue terima Lo sama Ibu Gundik Lo itu! Dan sampai Lo sama ibu Lo pergi dari kehidupan gue, Lo akan terus dapat perlakuan kayak gini dari gue, ngerti?!"
Rambut Revian dilepas begitu saja, membuat kepalanya membentur lantai. Naren akhirnya menarik napas lega, seolah puas telah melampiaskan kemarahannya.
“Yok, kita cabut,” ucapnya pada teman-temannya.
Tanpa menoleh lagi, mereka bertiga pergi, meninggalkan Revian sendirian di gedung olahraga yang sudah gelap.
Dada Revian naik turun keras, rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Tapi yang lebih perih justru hatinya. Air matanya mengalir begitu saja ketika ia menatap langit-langit gedung yang remang.
"Ibu… seandainya… Ibu gak nikah sama Tuan Angga… mungkin Revian gak akan kayak gini, Bu..."
Isakannya pecah, mengenang awal mula semua penderitaan ini dimulai.
.
.
BAB 1 - Ibu Menikah Lagi
.
.
"Ibu, emangnya kita mau kemana?"
Julia, ibu Revian, berdiri di depan cermin sambil memoles lipstik merah terang. Rambut panjangnya ia gerai dan ia rapikan dengan penuh perhatian, seperti seseorang yang hendak menemui orang penting.
"Bertemu calon ayah barumu."
Revian membelalakkan mata, tercengang oleh kalimat sederhana yang begitu menghantam.