Aku Anak Gundik!

Fitria Rahma
Chapter #2

2. Menjadi Keluarga


Revian mencuci tangannya di wastafel, mencoba menenangkan napasnya yang sejak tadi terasa sesak setelah keluar dari ruang VIP. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin—pucat, tegang, dan jelas tidak nyaman. Namun dahinya berkerut ketika melihat bayangan seseorang muncul tepat di belakangnya.


"Wajah Lo gak asing, Lo bener-bener sekolah di SMA NUSA?"

Naren berdiri santai sambil menyilangkan tangan, suaranya terdengar dingin dan menilai.


"I-iya Kak."

Revian menjawab pelan, tubuhnya sedikit menegang.


"Kenapa Lo bisa sekolah disana? Lo kan, miskin?"


"A-aku dapat beasiswa."


"Oh, pantesan."


Naren mengangguk kecil, lalu melangkah mendekat. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Revian bisa merasakan tekanan dari tatapan kakak tirinya itu.

"Lo tahu kenapa Ibu Lo bisa berhubungan sama Bokap gue?"


Revian mengernyit, ragu-ragu.

"Ibu…"


"Dia, pencuri suami orang, jalang."

Bisikan Naren terdengar tepat di telinga Revian, dingin dan menusuk, seolah sengaja dibuat untuk menghancurkan.


Revian sontak membelalakkan mata.

"Jalang? Jaga—"


"Gak heran sih," Naren memotong, lalu terkikik dengan nada meremehkan. "Ibu Lo keliatan banget kayak wanita yang ngebet pengen naik level. Makanya, suami orang juga diembat. Sampai suami orang juga disikat."


Ucapannya seperti racun. Tatapannya berubah ketika melihat wajah Revian yang tampak jelas tidak suka.

"Apa? Lo mau nyangkal? Dari awal liat juga gua bisa nilai, Ibu Lo pasti sering jual diri sama orang lain kan?"


Emosi Revian meledak. Ia mengangkat tangan, berniat memukul. Namun Naren jauh lebih cepat—menahan tangan Revian dengan mudah, seolah tenaga anak itu sama sekali tidak berarti. Ia terkekeh puas melihat percobaan perlawanan yang gagal total.


"Berani lawan gue Lo, hah?" seru Naren sambil semakin menekan genggaman. "Gue pastikan, Ibu Lo bakal dapat kesulitan yang sangaaat berat. Jadi, gak usah sok jagoan depan gue!"


Dengan kasar, Naren menghempaskan tangan Revian hingga tubuh anak itu terdorong sedikit ke belakang.


.


.


Julia menatap cincin berlian yang berkilau di jarinya, hadiah dari Angga. Senyumnya mengembang, penuh kepuasan. Sebentar lagi ia akan menjadi Nyonya Maheswara—status sosial yang selama ini selalu ia impikan. Semua usahanya, termasuk menyingkirkan istri sah Angga, terasa terbayar. Tentu saja, Angga memilih dirinya; perempuan yang lebih muda, lebih cantik, dan menurutnya lebih pantas.


Lihat selengkapnya