PLAK
Suara tamparan itu menggema di lorong samping ballroom, membuat wajah Naren terpaling keras ke samping. Pipinya nampak memerah, bukan hanya karena rasa sakit tapi juga karena harga dirinya yang terluka. Bang Nara berdiri di depan Naren dengan dada naik-turun, rahangnya mengeras menahan emosi.
Wajah Nara benar-benar gelap—campuran marah, kecewa, dan ketakutan.
“Gak keterlaluan sikap kamu Naren, ha?! Gimana kalau terjadi sesuatu yang lebih buruk sama Revian, hah?!” seru Nara, suaranya meninggi.
Naren mengepal tangan. Matanya berair karena emosi yang meluap, bukan sedih—marah.
“Keterlaluan? Siapa yang keterlaluan? Aku, atau Jalang sama anaknya itu bang?! Mereka, mereka bikin gue pisah sama Mama! Yang kayak gitu, wajarlah kalau diperlakuin kayak gitu!”
“Tapi gak seharusnya, kamu luapkan amarah kamu sama dia! Dia tuh masih kecil! Gak tau apa apa!”
Nara membentak balik, menunjuk dada adiknya dengan wajah tak percaya.
Naren mendengus, menyeka bibirnya yang bergetar menahan amarah.
“Alah anak kecil! Dia sama gue cuma beda dua tahun loh bang! Dia seharusnya udah cukup umur buat tahu kalau kelakuan ibunya itu kayak sampah! Atau, mereka emang udah ngincer keluarga gue dari awal!”
Nara menutup wajahnya sebentar, frustasi.
“Tetap salah kalau kamu hanya terus memojokkan dia aja Ren!”
Tatapannya kemudian mengarah pada Narea dan dua sepupu lain yang berdiri kaku di belakang Naren. Wajah mereka pucat, jelas masih terkejut setelah melihat Revian hampir tenggelam.
“Kalian juga! Kalian lebih tua dari Naren, harusnya kalian gak dukung tingkah Naren! Kalau ada apa-apa, keluarga kita juga kena, nantinya!”
Nada suara Nara tajam menusuk, membuat ketiganya menunduk semakin dalam.
Namun Naren hanya tertawa pendek, pahit.
“Alah udahlah Bang! Lo gak akan ngerti perasaan gue, karena Lo gak ada di posisi gue! Gue udah gak ketemu sama Mama selama satu tahun Bang! Karena jalang itu rebut posisi Mama sekarang!” Suaranya pecah. Bukan menangis… tapi putus asa.
Nara melembut sedikit. “Naren… Maaf,”
Langkahnya maju seperti ingin menenangkan, namun Naren menepis tangannya.
“Udahlah. Kalau Lo emang gak ada dipihak gue, gak usah larang gue buat terus nindas anak jalang itu. Itu, pantas dia dapatkan.” Dengan suara dingin dan raut penuh dendam, Naren berbalik dan meninggalkan keempat kakak sepupunya. Langkahnya berat, tapi penuh kemarahan yang menumpuk selama setahun penuh.
Empat pemuda itu hanya terdiam, tak mampu mengejar.
.
.
.
Tak jauh dari sana, Jelita berdiri bersembunyi di balik tembok hall besar. Gaun mahalnya bergoyang saat ia bersandar, menyunggingkan senyum miring yang penuh rencana.
Mata gadis yang berulang tahun malam itu nampak berkilat licik.
“Jadi, Naren benci banget yah sama anak itu?”
Ia mengusap bibirnya dengan senyum puas.
“Em, bisa gue manfaatin… supaya Naren lebih tertarik sama gue. Gue bakal bantu Naren buat nindas tuh anak.”
Kepalanya miring sedikit. Nada suaranya ringan, tapi penuh racun.
“Lumayan, ada hiburan baru setelah ulang tahun gue berantakan karena anak jalang itu.”
.