Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #2

Januari 2006


"Kok kesini?" tanya Mamed sadar ketika aku membawanya ke Gereja.


"Memang kenapa?"


"Kamu tahu aku islam, lagipula katamu halangan," ucap Mamed.


"Kalau sama kamu, jadinya enggak," ucapku ringan tanpa dosa.


"Aturan dari mana itu?" tanya Mamed tak kuhiraukan.


Segera kuselundupkan bocah ini setelah perdebatan panjang tanpa adanya Karni Ilyas. Kami segera ambil tempat tepat di samping Papa Mama. Mereka kaget karena tiba-tiba aku ada di gereja. Tetapi lebih kaget karena aku menyelundupkan Mamed.


"Apa-apaan kamu ini?!" Papa marah dengan berbisik.


"Kenapa sih, Pa?" tanyaku bodoh.


"Masih tanya kenapa??"


"Ah, Papa! kali aja Mamed mau murtad, ini agama yang cocok buat dia," jawabku.


Langsung saja sepanjang peribadatan aku menahan rasa sakit karena Papa menarik telinga. Entah apa salahku kali ini. Namun ada baiknya jika Papa seperti ini, aku tak harus bergulat dengan rasa kantuk.

Selesai dengan urusan gereja, aku segera meminta uang untuk jalan. Biasanya cukup susah untuk hal ini, tetapi dengan adanya Mamed uang bisa turun sangat mudah bahkan bisa berlebih. Harus aku akui kadang ia memang cukup ajaib. Aku segera membawanya menuju warung sate langganan. Aku lebih memilih jalan pintas, dengan jalan rusak sekaligus off-road. Dan Mamed?, Ia hanya membusuk diam memperhatikan caraku mengemudi melewati jalan bebatuan ini.


Lama-kelamaan aku sadar mengapa ia hanya membusuk memperhatikanku mengemudi. Segera kutampar agar ia ikut memperhatikan jalanan. Sebab, jika jatuh ke jurang maka semua ini salahnya.



"Kok aku yang salah?"


"Ssttt!, Perhatikan jalan atau ku colok matamu itu" Ancamku.


"Kak Ness ...."


"Hmm ...."


"Kenapa milih jalan ini?" Ia bertanya sambil bergidik ngeri.


"Sekalian off-road," jawabku.


"Kenapa harus jalan ini? Gak lucu kalau kita jatuh ke jurang."


Lihat selengkapnya