"Papa bisa nyetir mobil, Mama juga bisa, Mbak Vana juga bisa, jadi kapan Papa mau ajari Rissa nyetir mobil?" tanyaku penuh antusias.
"Jangan, hancur nanti mobil papa! Macam kelakuan kamu di rumah" Mata Papa masih fokus pada jalanan
Cukup mengecewakan, namun hal tersebut tak membuatku goyah ingin bisa mengemudi mobil. Ku perhatikan baik-baik pergerakan tangan dan kaki Papa dalam mengemudi maupun menggerakkan tuas transmisi.
Dan disaat yang tepat, saat semua orang tak berada di rumah alias hanya aku sendirian. Aku sudah terbiasa ada di rumah sendirian di waktu tertentu. Dan itu waktu yang sangat amat tepat saat mobil papa tergeletak tak berdaya di garasi. Tuhan semesta alam memberi restu untukku belajar mengemudi. Segera mataku menyapu segala arah rumah untuk mencari kunci mobil yang memiliki tempat khusus. Namun, tempat khusus itu masih bisa dijangkau! Dariku sekalipun.
Jemari gemetar hebat saat ingin memutar kunci kontak. Akan tetapi tekadku sudah bulat melebihi lingkaran setan! Mobil bergetar sekejap dan mesin menyala, ditambah beberapa lampu indikator yang mati bersamaan dengan nyala mesin. Aku ingat betul cara Papa menjalankan mobil. Ingatanku mengikuti semua gerakan Papa. Tangan mengarahkan tuas transmisi menuju Reverse dan kaki perlahan mengangkat kopling. Mobil mulai mundur perlahan hingga cukup mepet dengan gerbang. Maju dan mundur aku lakukan berulang-ulang hingga cukup mahir dalam melepas kopling dan mengatur pedal gas.
Begitu juga malam hari, aku mencoba keluar dari gerbang dan mencoba belajar sendirian saat jalan sudah sepi dari pengendara lainnya. Keringat mengalir deras walau pendingin sudah menyala maksimal. Aku tak mau terlalu lama mengemudi dan harus segera pulang karena cukup takut jika indikator bensin berubah dan semua ini akan terbongkar.
Keesokan harinya Papa berdiri tepat di depan mobil. Mengamati tiap sudut mobil, cukup aneh tetapi aku takut jika Papa tahu aku belajar mengemudi sendiri.
"Mobilnya geser?" Papa masih memperhatikan letak mobil.
"Namanya juga punya roda, mobilnya bosan Papa parkir di situ," balas Mbak Vana.
"Kamu pakai mobil Papa?"
"Ngapain?" balas Mbak Vana.
Papa menghela nafas, masih berpikir apa ada yang salah dengan ini semua.