Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #4

Januari 2011



"Ganti, ada setelan jas buatmu," ucapku.


"Ngapain? Bukannya batik sudah cukup untuk kondangan?" tanya Mamed.


"Ada Dress code, jangan bikin malu!"


Mau tak mau ia menurutiku untuk ganti baju dengan setelan jas yang aku berikan.


"Jangan di depanku!" ujarku sedikit jengkel melihatnya sembari tangan ku melempar bantal.


Cukup singkat ia ganti dengan pakaian yang sudah ku siapkan. Setelan jas dengan dasi kupu-kupu cukup membuatnya elegan namun tak kehilangan aura preman kampung. Awalnya ia protes mengenai dasi aneh ini. Namun, bagaimanapun juga ini sebuah pesta dan bukannya acara formal.

Dan secepat angin ia melaju membawaku menuju pesta pernikahan salah satu temanku.


"Jangan buat malu!" ujarku sebelum kami masuk gedung.


"Contohnya?"


"Jangan rakus, jangan tiba-tiba ambil mic buat karaoke, jangan sok kenal." Kataku cukup panjang lebar ditambah mewanti-wanti agar ia tahu diri.


"Tapi, aku sudah lapar ... Pakai banget!"


Rupanya tiap perkataan yang keluar dari mulutku hanya singgah sebentar di dalam otak udangnya. Ia terlihat bingung memikirkan apa yang akan ia lakukan di dalam nanti, apakah merebut mic untuk karaoke atau menghantam hidangan yang tersaji. Aku putuskan saja untuk menggenggam erat tangannya agar ia tidak kabur sekaligus sebagai anjing penjaga untukku.


"Siap?" tanyaku.


Akan tetapi, wajahnya hanya membeku dan sorot matanya terkunci padaku. Sejenak aku berpikir apakah ada yang salah denganku atau dandanan ku memang aneh menurutnya.


"Enggak, kamu cantik Kak Ness, cantik sekali" jawabnya saat kutanya mengapa.


Ada sedikit perasaan senang namun juga jengkel, "Sekali lagi gombal, aku tinju wajahmu itu!".


Kami masuk gedung dengan berjalan beriringan. Yang aku takutkan ia akan kabur untuk ambil alih mic dan memulai karaoke yang menghancurkan pesta ini serta melengkapinya dengan penderitaan bagi orang-orang yang mendengarkan suaranya yang sungguh menyiksa.

Rupanya, itu hanya anganku saja. Ia masih setia berdiri tepat di sebelahku. Ia mengambil segelas minuman layaknya dalam pesta pada sebuah film. Sikapnya berubah drastis! Sama persis seperti film. Ia mengira dirinya seorang Brad Pitt. Ia malah menjadi aneh.


"Enggak usah ngerasa jadi Brad Pitt, ini pesta! Bukan Film" ujarku mencubit pinggangnya.


"Loh! Aku berusaha jadi Al Pacino," balasnya.


"Sama aja!".


Pandanganku teralihkan oleh beberapa sosok manusia, segera aku usir Mamed untuk mencari camilan atau minuman lain.


"Eh, Rissa... Kesini sama Tunanganmu?"


"Iya ..." jawabku singkat.


"Serius?" tanya mereka memutar kepala mencari Tunanganku, "Yang mana?"


Tiba-tiba Mamed datang kembali dengan minuman lain. Ia menjabat tangan kawanku ini dan memperkenalkan diri sebagai Tunanganku. Ada raut aneh yang tak bisa dijelaskan dari kawanku ini. Sudah lama aku arahkan Mamed untuk berpura-pura dengan hal semacam ini karena aku muak dengan beberapa temanku, terutama teman laki-laki.


"Wajahmu ... Terlihat familiar" ucap salah satu teman perempuan ku.


" Oh ya? Banyak yang bilang seperti itu, aku memang mirip Dude Harlino"


Dalam hati ingin ku pukul wajahnya sebab hal konyol ini. Lalu temanku memanggil kekasih pria nya. Dan hal itu membuatku sangat kaget karena dia adalah salah satu teman seangkatan saat SMP dan mengenali betul Mamed sebagai biang rusuh.


"Serius dia Tunanganmu? Ini bocah aja belum lulus sekolah" ucapnya.


"Masalahnya dimana?" ucapku sambil menunjukkan cincin yang mengikat erat di masing-masing jemari kami.


Mereka tampak kaget.


"Rencana memang langsung menikah saat dia sudah lulus" ujarku.

Lihat selengkapnya