Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #5

Agustus 2007



"Om, masih kuat di atas sana?" ucap Mamed


"Tentu ... Om lagi cek genteng mana yang bocor atau ada hal lain yang bisa bikin bocor selain genteng."


"Untuk orang setua dan seukuran om, om masih bisa manjat tangga itu cukup menakutkan, lho!"

"Mau bantu atau ngehina?"


"Mau bantu ... tapi kalau gak ngehina, rasanya kurang, om!" ucap Mamed tak tahu diri.


Untungnya ia disukai keluargaku. Jika tidak, bisa dipastikan ia dilempar dari atas genteng.


"Masih cek apa lagi sih, om?" tanya Mamed.


"Cek semuanya, sebentar lagi musim hujan" Papa masih memperhatikan dari atas, "cek genteng, talang air sampai bersihin semua biar air hujan bisa ngalir maksimal dan gak bikin bocor"


"Oohh... Terus, om?"


"Cek kondisi rangka atap dan sebagainya, kalau ada penghuni baru, rumah ini gak butuh renovasi berlebih."


"Penghuni baru? Maksudnya gimana, om?" tanya Mamed.


"Om gak akan disini selamanya" ucap Papa mulai menjejakkan kaki untuk turun.


"Jadi, om mau mati? Jangan dulu deh, om!"


Aku terkejut, kombinasi mulut sialan ditambah otak udang Mamed cukup menjadi racun yang sungguh mematikan. Untungnya, Papa masih punya banyak kesabaran untuk menghadapi bocah bodoh itu.


"Bukan itu, maksudnya keluarga om juga akan bertambah... Itupun nanti"


"Nanti kapan?"


"Nanti kamu juga tahu!" ujar Papa tertawa kecil.


"Jadi, kenapa om bisa ngerti hal semacam itu?" Mamed masih bertanya sembari menurunkan tangga untuk dikembalikan ke tempat semula.


Lihat selengkapnya