Janji suci terucap dari mulutnya, kehidupan kami sudah berbeda 180°. Sakit hati? Tentu saja, rasa sakit hati ini sudah dalam tahap ingin menghancurkan segalanya termasuk pesta pernikahan ini.
"Kak Ness."
Cukup terkejut saat Mamed ada tepat di sampingku, duduk dengan pakaian terbaik. Entah sudah berapa lama aku termenung melamun menatap layar ponsel, aku tak ingin terlalu mencolok memperhatikan dirinya.
"Selamat ya... Kau sudah jadi dewasa," kataku sekuat mungkin menghadapi kenyataan pahit ini sembari membetulkan jas yang ia kenakan walaupun sudah rapi.
"Kak Ness ...."
"Entah butuh berapa lama buatku agar bisa sepertimu, jaga istrimu sebaik baiknya, ya ...," ucapku beranjak, sudah tak tahan aku dengan situasi konyol ini.
"Kak Ness," ujarnya menahan ku dengan cara menggenggam erat tanganku.
"Lepasin!!"
"Kak Ness, aku bisa jelaskan," balasnya lirikan beberapa orang.
"Lepas! Aku mau ambil makan, aku lapar, kampret!" ucapku sejenak membuat dirinya tertawa, aku harus bisa mengalihkan opini para tamu atau pesta pernikahannya akan jadi hancur.
Cintaku padamu, Kasih
Tak akan pernah berubah
Tapi engkau begitu mudah
Mengkhianati diriku
Cintaku juga pada dirimu
Tiada akan pernah berubah
Orang tuaku tak mengharapkan
Dunia akhirat ku jadi milikmu
Cintaku padamu, Kasih
Tak akan pernah berubah
Tapi engkau begitu mudah
Mengkhianati diriku
Bertahun-tahun dirimu
Kuimpikan, oh, Kekasih
Untuk hidup bersamaku
Di dalam mahligai indah
Hancur sudah harapanku
Bagai debu yang beterbangan
Luka hati, luka diri
Ke mana akan kubawa?
Maafkanlah, Kasih
Aku tiada berdaya
Ho-oh-oh
Duet karaoke Papa dan Mama untuk memeriahkan pernikahan seolah benar-benar mengejekku. Nafsu makan langsung turun drastis namun tetap aku paksa walau perut sudah tak ada tempat tersisa.
Mual segera menyerang, aku putuskan keluar pesta ini dan memuntahkan semua yang masuk perut. Lalu kembali masuk untuk menghabiskan makanan lagi.