Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #7

Februari 2013


Aahh... Valentine!

Hari yang penuh nuansa horror, karena biasanya aku mendapat coklat dan hadiah dari Mamed. Akan tetapi, kali ini jauh berbeda! Rasa sakit hati masih enggan pergi seolah merasa nyaman untuk terus menghina. Coklat tergeletak di meja merasa sia-sia hanya diam dan tak akan menjadi hadiah. Ini pertama kalinya membeli coklat hanya untuk dilihat tanpa ada rasa ingin menikmati.

Mamed sudah menikah, tak ada alasan untuk diriku untuk terus dekat selain hanya teman. Dan mungkin kami tak akan kembali dekat seperti biasanya lalu menjauh kembali jadi asing. Masih teringat jelas saat ia mengakhiri masa lajangnya dan memutuskan mengikat hubungan dalam status resmi dengan wanita pilihan ibunya. Walaupun ia begitu terpaksa, menerimanya adalah keputusan terbaik saat itu. Ia belum bisa berpendirian teguh dan masih sangat muda! Bahkan barusan lulus sekolah. Sudah pasti ia senang merasakan nikmatnya bercinta dengan menggebu-gebu.


Dan aku? Sendirian menanggung luka harapan yang begitu tinggi. Sakitnya perbedaan tak pernah aku rasakan seperti ini! Sakit sekali hingga aku kembali menangisi keadaanku yang apes. Seperti istilah hari apes tidak ada di kalender.


Suara pintu diketuk menjadi jeda tangisan, "Rissa, ayo makan" Ternyata suara Papa yang terdengar.


Aku tak ingin merespon, semua rasa menjadi hambar.


"Putriku... Ayo makan, Papa bawa rendang kesukaanmu"


"Rissa enggak lapar!"


"Rissa boleh minta apa aja, apapun yang Rissa inginkan akan Papa berikan" Papa masih ingin membujuk.


"Papa sudah tahu apa yang Rissa mau dan inginkan, apa Papa yakin bisa berikan?" tanyaku.


"Makan saja, kau bisa lanjutin nangismu nanti!" Suara Papa terdengar kesal.


Kini Mbak Vana yang membuka pintu dan menyeretku untuk makan. Makanan menggugah selera siapapun yang melihatnya tak akan berarti bagiku, setidaknya untuk saat ini. Tiap suapan terasa memuakkan bahkan tenggorokan sangat sakit menelan ini semua. Aku tak ingin lagi makan makanan busuk ini.


"Mau kemana kamu?" tanya Mama saat aku beranjak tanpa menghabiskan makanan.


"Tidur!" jawabku ketus.


"Habiskan dulu makanmu itu," Mama masih mengoceh.


"Berisik!"


Papa menggebrak meja,"Kamu yang harusnya diam, Rissa!"


"Papa juga berisik!"


Lihat selengkapnya