Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #8

Agustus 2017


Suara knalpot terdengar nyaring dan merdu walau sangat keras. Sangat amat keras dan suara itu tiba-tiba berhenti! Tepat di depan rumah. Rasa penasaran membawaku ke arah suara itu. Terlihat Mamed yang membawa motor itu. Sebuah motor sport berwarna hijau dengan sedikit aksen hitam khas pabrikan motor itu. Motor yang sedang diidamkan banyak anak muda, termasuk aku sendiri. Namun motor itu sangat berbeda dengan yang aku lihat, terlebih pada bagian suara. Ada lubang di antara kedua lampu utama, bentuk belakang motor hingga panel speedometer juga berbeda. Dan memiliki 2 rem sekaligus pada roda depan. Apa jangan-jangan Mamed membeli motor palsu? Sepertinya mustahil.


"Bagus?" tnya Mamed.


Aku masih memperhatikan dengan seksama motor ini.


"Motor baru... Kencang?" tanya Papa tiba tiba muncul karena penasaran juga.


"Banget!"


"Sekencang apa?" Papa mencoba naik motor ini dan terlihat pas dengan postur Papa yang tinggi dan besar.


"Om pernah merasa dekat dengan tuhan?"


Papa diam tak mengeri maksud Mamed.


"Coba aja, om... Dijamin langsung merasa dekat dengan tuhan" ucap Mamed mantab, "Tapi, pastikan cuma merasa dekat aja, om, jangan sampai ketemu langsung"


Papa segera melayangkan pukulan dengan telapak tangan, namun Mamed berhasil menghindar.


"Motor Ninja sudah jadi makanan om dulu!" ucap Papa angkuh sembari menyalakan motor itu dan pergi dengan raungan yang cukup menyakitkan telinga.


Ada senyum terukir jelas di wajahnya saat melihatku, "Papamu, tahu cara naik motor itu?".


"Gak perlu sombong, nanti giliranku."


"Kau harus lebih tinggi untuk bisa sampai" ucapnya cukup menghina tinggi badanku.


Ia mengikutiku duduk di kursi teras, sore ini terasa aneh namun syahdu.


"Kapan berangkat ke Jakarta?"


"Mungkin akhir tahun" Wajahnya menatap langit jingga, "Sebenarnya aku juga belum siap".


"Aku tahu, pasti berat meninggalkan semua kenangan di sini"


Sebagai orang terdekatnya, aku tahu benar isi hatinya. Ingatan kepergian anak dan istrinya terpatri kuat dalam ingatan. Bagaimana ia bertahan dari pedihnya kehilangan tidak dapat kubayangkan. Sejak saat itu juga tatap mata indahnya tak lagi nampak, hanya sorot kosong dan ia berubah menjadi pribadi yang tak ku kenali meskipun ia orang yang sama.


"Lapar? Mama masak kesukaanmu untuk hari ini" ucapku agar ia tak melamun.

Lihat selengkapnya