"Mama Ngapain?"
"Tanam Jagung!" Jawab Mama yang terdengar kesal karena Mbak Vana bertanya hal aneh.
"Maksudnya kenapa masak sampai tengah malam?" Papa ikut menengahi pasal memasak hingga tengah malam.
"Besok hari raya, habis dari masjid kita bisa makan"
"Ma, kita semua gak ada yang ibadah di masjid, kita semua Katolik" ucap Papa.
Mama berhenti sejenak, masakan ini sayang jika tidak dilanjutkan sampai matang.
"Tapi, Mama sudah siapkan semua ... Sayang kalau enggak dilanjut," ucap Mama kembali menyalakan kompor, "Besok, habis sholat Ied bisa makan-makan"
"Sekali lagi, di rumah ini siapa yang sholat ied?"
Mama menghela napas panjang, mencoba berpikir mengapa begitu ingin ikut acara seperti ini. Event Akbar yang hanya terjadi satu tahun sekali.
******
Keesokan harinya dan di pagi hari yang cerah ....
"Lho, katanya ikut sholat Ied?" tanya Papa saat melihat Mama yang baru bangun.
"Enggak ada mukena" jawab Mama cemberut berlipat-lipat.
Ada rasa lelah, kesal serta menyesal memasak berbagai jenis makanan dengan porsi super banyak tanpa bisa ikut acara super besar tiap tahun.
"Kita ke rumah Mamed aja, sekalian silaturahmi dan bawa makanan ini" ucap Papa memberi ide, "Mama bisa ikut merasakan momen lebaran, lho"
Maka, setelah ini itu anu ina inu! Kami sampai di rumah Mamed dengan membawa masakan untuk dimakan bersama. Namun, bocah itu sedang pergi dengan para sahabatnya dan menyisakan ibunya menemani tamu yang datang guna bersilaturahmi seperti pada umumnya. Tak ada hal istimewa, hanya silaturahmi seperti pada umumnya