Dan di penghujung Januari, aku teringat ulang tahunnya. Aku ingin memberinya hadiah spesial. Tanpa ragu aku hantam tabungan untuk membeli sebuah jam tangan untuknya. Ia selalu melihat pergelangan tangan kirinya saat ia tengah panik atau gelisah saat berhadapan dengan waktu. Padahal aku tak pernah melihatnya memakai jam tangan, memang kebiasaan Mamed seperti itu.
Aku pandangi jam tangan ini sembari mengkhayal betapa senangnya ia mendapat hadiah ini. Dan khayalan tinggallah khayalan saat Mbak Vana berhasil mengganggu.
"Wiihhhh ... Jam mahal" ucap Mbak Vana juga terpana,"Dikasih penggemar?"
"Enak aja ... Aku beli buat hadiah Mamed, ya" Jawabku.
Raut Mbak Vana seketika berubah,"Hadiah, Kau yang beli?"
"Iya"
Mbak Vana menghela napas, "Uang siapa lagi yang kau curi kali ini?" Mbak Vana penuh selidik.
"Mulutmu itu lho mbak!, Macam gak pernah dibacain Yasin" ucapku geram dengan tuduhan tak bermoral darinya, "Kau lahir di adzanin atau di dugem-min sih??" Aku bertanya.
Segera aku menuju tempatnya bersembunyi! Kali ini Mamed bersembunyi dari semua orang karena sedang membenci ibunya yang berniat menikah lagi. Dengan bodohnya ia kabur dari rumah tanpa ada persiapan apapun. Dimana dia bersembunyi? Di markas preman kampung. Ia sadar betul tak akan bisa bertahan tanpa uang dari ibunya dan teknologi. Namun, setidaknya ia bisa bertahan dengan makan gratis hasil memalak.
Aku memberi hadiah dan Ia masih tak merespon. Kesal?, Tentu saja!. Aku tarik kakinya dan segera menyeret keluar tempat ini. Tak menyangka ia yang ambil alih kemudi. Aku hanya mengajari cara mengemudi dua kali, tetapi ia sudah berani mengemudi mobil. Agak was-was tapi aku percaya ia bisa. Reflek dan motoriknya sangat bagus.
Aku pejamkan mata agar tak tahu akan kemana ia akan membawa, tetapi tetap saja aku penasaran. Kutahan rasa penasaran agar menjadi kejutan. hingga aku terlelap dan terjaga, mobil masih tak berhenti. Aku juga was-was melihat indikator bensin menunjukan hampir habis. Aku tak bawa uang yang cukup bensin mobil ini.
Tetapi jemarinya menekan tombol untuk membuka tangki cadangan agar mengisi tangki utama. Aku berdoa saja agar bensin ini cukup sampai aku pulang. Yang ia lakukan hanya berputar mengelilingi kota berkali-kali dan pulang. Mobil berhenti tepat di rumahku Dengan bensin habis! Benar-benar habis tak tersisa. Yang Mamed lakukan? Ia segera keluar dan langsung duduk di teras.
Aku pakaikan untuknya sebuah jam tangan sebagai hadiah ulang tahun. Aku senang ia tersenyum dengan jam tangan itu.
"Terima kasih, Kak Ness," ucapnya untuk pertama kali di hari ini.
"Sama-sama ...," jawabku.
"Aku mau es."
Segera saja aku masuk untuk membuatkan es sirup, meskipun memakan waktu yang lama karena es susah dikeluarkan dari dalam kulkas. Tetapi, ketika aku membawanya ke teras Mamed sudah hilang. Ia tak ada di sini!, Aku mencari ke segala sudut rumah dan tak menemuinya.
Tentu saja aku bingung, tak mungkin ia pergi begitu saja. Atau jangan-jangan aku mengemudi bersama hantu yang menyerupai wajah bodoh Mamed?. Tapi hantu itu tak ada ... Segera aku masuk mobil untuk mencarinya, tapi mesin enggan menyala karena bensin sudah habis!.
"Mobil sialan!" Aku memaki mobil boros ini.
Aku mencoba berpikir jernih tapi tak bisa karena motor juga tengah dipakai. Saat itu juga Mbak Vana datang, segera aku begal motornya dan menyusuri jalan untuk mencari Mamed sialan itu. Aku menemukannya sudah setengah jalan menuju markas besar preman kampung. Padahal rumah kami sangat jauh, tetapi ia sudah berjalan sejauh ini. Sangat aneh, berlari pun tak akan bisa sejauh ini!. Entah ia bocah ajaib macam apa. Segera aku culik kembali dan membawanya ke rumahku.
Waktu menunjukkan sudah sore, aku seret ia ke teras dan mengunci kepalanya lalu mencekoki dengan es sirup yang aku buat untuknya. Rasanya sayang kalau es sirup ini tak dinikmati.
****
Malam hari...
Keluarga tahu ia sedang dalam masalah seperti ini. Maka mereka memutuskan agar Mamed menginap disini.
"Memang dia mau tidur dimana?" tanyaku.