"Kok bawa mobil Mamed?" tanya Mbak Vana melihatku sepulang bekerja.
"Tadi dia jemput, mana sambil mabuk"
Tergerak hati ingin memasak hanya untuk Mamed seorang yang teler di mobil.
"Mau apa kau??" tanya Mbak Vana.
"Masak, aku mau masak buat Mamed."
Mbak Vana terlihat menghina, "gak sadar diri!"
Karena tak mau ambil pusing aku membiarkan Mbak Vana memasak untuk Mamed. Aku sadar betul kalau masakanku hanya akan membuat hari Mamed yang sudah terasa buruk malah makin buruk.
*******
"Aku yang masak, Rissa cuma nyiapin aja," ujar Mbak Vana melihat Mamed yang waspada melihatku tersenyum.
Mamed menghela napas dan segera memasukkan ke mulut, rupanya ia terlihat senang saat Mbak Vana yang memasak ini semua. Bisa dibilang Mamed makan dengan lahab tak bersisa. Melihatnya menghabiskan makanan membuatku senang, tapi juga ada rasa benci ingin mencekiknya.
"Jadi, kalau aku yang masak.... Kau gak mau makan?? Gak enak ya?" tanyaku sinis.
Mamed memutar otak bagaimana menjawab pertanyaan jebakan dariku. Dalam keadaan setengah sadar saja sudah sulit, apalagi ditambah tekanan yang ku beri.
"Aku gak pernah bilang masakan mu gak layak."
"Teruss??!!" Tanyaku.
"Aku gak mau kamu masak karena, kamu sudah capek kerja.... Aku gak mau nambah beban untuk masak."
"Seandainya aku libur dan aku mau masak buatmu... Kamu mau makan masakanku??" tanyaku menemukan celah untuk menjatuhkan Mamed.
"Tergantung" jawabnya pasrah, ini satu satunya jawaban yang bisa ia lontarkan.
.....
Mamed masih bertahan disini, aku menyediakan bantal dan selimut jika tiba-tiba ia tidur disini.
"Senang Mamed ada disini??" Goda Mbak Vana.
Aku hanya diam tak ingin menunjukkan ekspresi apapun.
"Lagipula dia resmi jadi duda, kau bebas untuk kejar cintamu itu," katanya sembari terkekeh masuk kamar.