"Hei, cepatlah sadar ... Aku disini menunggu" ucapku sudah lelah dengan Mamed yang tidak kunjung terbangun.
Ia masih menutup mata beberapa hari ini, ia mengalami kecelakaan yang membuatnya harus terbaring di ranjang rumah sakit.
"Akan aku kecup bibir indahmu setiap hari, jadi ... Bangunlah" Aku masih mengoceh.
Masih saja ia asyik dengan keadaan tenang namun berada dalam kondisi hidup dan mati.
"Apa kamu enggak mau ketemu aku lagi?"
Malam ini sebenarnya aku sudah sangat benar-benar lelah, namun siapa lagi jika bukan aku yang akan setia menunggunya? Dan aku tak mau orang lain ada di sisinya, setidaknya untuk saat ini.
"Kamu pasti sudah tahu, perawat disini cantik sekali ... Kau boleh goda dan gombalan semua perawat disini! Tapi, aku mohon, bangunlah" Air mataku mulai berlinang.
Percuma! Ia masih enggan untuk bangun walau mesin pendukung hidupnya berisik bukan main. Aku putuskan untuk keluar kamar demi menghirup udara segar dan saat itulah Mbak Vana datang.
"Pulanglah, aku yang jaga" ucap Mba Vana menaruh tas, "Istirahat, kau sudah lelah, sudah 3 hari enggak pulang ... Jangan paksa dirimu, pekerjaanmu juga tidak kalah penting"
"Enggak, Mamed jauh ... Jauh lebih penting untuk saat ini."
"Tidur saja, kita jaga sama-sama dan itu baju gantimu."
"Aku belum lelah," ucapku bohong walau sudah lelah bukan main.
Tanpa sadar ingatan melompat jauh kembali ke kilas balik masa lalu. Dimana aku juga pernah ada di posisi Mamed yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku masih ingat betul dia setia menemaniku yang jatuh sakit dan tidak meninggalkan aku. Ia bahkan rela untuk tidak berlibur atau mencari udara segar.
Dan kini, aku melakukan hal sama seperti yang Mamed lakukan dulu. Aku hanya berharap dia cepat sadar dan merespon semua ucapan cinta dariku.
*****
"Hai lagi," ucapku memberi salam, "Ini sudah hari ke empat"
Air mata sulit dibendung, tetapi aku harus kuat.
"Bagaimana siang tadi?" tanyaku sembari membelai lembut rambutnya, "Renata yang menunggui, kau masih diam sama sahabat wanitamu itu?"
Genggaman erat dariku tak terbalas olehnya, harus kepada siapa aku berdoa agar ia membalas genggaman tanganku?.
"Tapi, aku senang kau masih diam dengan sahabatmu itu... Kau tahu aku benci wanita itu" ucapku tertawa pelan walau air mata hampir jebol.
Ide busuk melintas dengan liar.
"Masih enggak mau bangun?" tanyaku, "Kau boleh pegang dadaku yang besar dan kenyal ini"
Aku arahkan tangannya untuk memegang dadaku dan berharap ia bangun. Namun, ia masih tetap bersikeras tak ingin bangun. Air mata sudah mengalir menjebol pertahanan. Ini semua salahku! Benar-benar salahku.
Flashback
"Masih mau kerja?" tanyaku melihatnya menyiapkan alat.
"Iya,"
"Enggak bisa ditolak?" Jujur, aku khawatir, "sudah sore dan waktunya istirahat"
Ia tertawa kecil, menertawakan kekhawatiran yang menyelimuti diriku.
"Tolong, jangan pergi... Sekali ini saja untuk tolak pekerjaan itu." Aku sangat khawatir, "Tolak saja, alasan terserah!"
"Kak Ness, bagaimana kalau aku juga melarangmu bekerja hari ini seandainya ada panggilan darurat untukmu"
Aku hanya bisa menghela napas panjang, "Aku sudah disumpah dan tidak akan melanggar kode etik pekerjaanku"
"Kita punya bidang pekerjaan yang sama persis, bedanya ... Aku menangani ciptaan manusia dan kamu menangani ciptaan alam" ucapnya sama sekali tidak bisa menghapus kekhawatiranku.
"Dan, aku akan bawa hadiah buatmu sepulang kerja ... Tunggu saja" imbuhnya dengan senyum.