Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #14

Rena?


Renata, aku ingat wanita itu! Aku pernah berkelahi dengan wanita jahanam itu. Seketika itu juga aku mencoba mencari bagian dimana aku rela berkelahi demi Mamed. Dan ternyata, tulisan ini masih belum selesai sepenuhnya. Sekuat mungkin aku mengingat walau buntu. Yang hadir ialah sosok Mamed dan entah mengapa aku bisa membela habis-habisan. Aku memang sudah memiliki perasaan padanya sejak kami bersama berada di lingkungan sekolah meskipun aku menyangkal perasaan itu.

Aku kembali memutari isi otak mencoba mencari alasan mengapa bisa aku memiliki perasaan padanya, bahkan rasa itu masih terpatri kuat dalam hati kecil hingga saat ini. Ia bukanlah manusia rupawan layaknya pangeran, ia jauh dari itu. Bahkan semua keburukan tanpa kebaikan melekat kuat pada dirinya

*) Hahaha... Terlalu berlebihan jika seperti itu, ia hanya manusia pada umumnya. Namun bagiku ia adalah segalanya. Karena dia aku tersesat dan karena dia juga aku kembali ke jalan yang seharusnya.


Kini ingatan samar mengenai Rena mulai muncul dan mengisi tiap kekosongan ingatan yang tercerai berai menjadi runtutan kejadian seperti seharusnya.




Januari 2007




"Kita balas kapan?" tanya Diana.


"Jam istirahat pertama."


Maka, saat jam pertama kami siap dengan segalanya. Kami dengan aura balas dendam yang pekat segera menuju kelas satu. Disana kami langsung bertemu Rena yang tengah membaca komik. Terlihat cukup tenang ia menaruh komiknya, berdiri tepat di muka.


"Kenapa, Ada masalah?" tanya Rena.


"Menurutmu?"


"Eh, pendek ... Lebih baik kau kembali ke kelasmu," ucapnya menghina. Ia cukup tinggi untuk ukuran anak kelas 1, "Pergi atau kuhajar kau dan temanmu itu!" Ancamnya.


"Coba saja" ucapku dengan percaya diri bisa menumbangkan Rena.


Ia langsung mendaratkan tinju dengan mulus mengenai pipiku. Sangat keras hingga aku cukup shock dibuatnya. Ia begitu lincah untuk menyerang. Perkelahian berjalan cukup alot dan tak ada yang berani memisahkan. Hingga Rena mulai terpojok! Ini saatnya membalas dendam. Pikiran balas dendam membuatku lengah dan kehilangan fokus untuk menumbangkan Rena. Ia menggunakan pasir untuk mengalihkan perhatian.


Tak menyia-nyiakan kesempatan dan ia sukses dengan pasir itu, tak lupa menumbangkan Diana dengan lemparan batu!. Pak guru datang untuk memisah!, Ia masih diberi kesempatan untuk hidup. Aku yang pertama diamankan tetapi Rena mendapatkan bonus kesempatan untuk bisa lepas dan aku mendapatkan kenang-kenangan cakaran di pipi darinya.


Aku bersumpah akan melakukan hal yang sama!.


Siswa mulai bersorak atas kemenangan Rena, dan suara paling keras ialah milik Mamed yang meneriakkan untuk Rena! Ia memuji perempuan sialan itu!.




****


Lihat selengkapnya