Hmm... Mbak Vana, bagaimana caraku menuliskan seorang kakak?. Lumayan bahkan susah, aku tidak punya kata-kata atau mungkin kata itu belum tercipta.
Tahun berapa, ya?
Pertengkaran hebat terjadi karena perebutan makanan atau apa, aku lupa! Hehe.
"Kalian berdua ngapain lagi, sih!" Mama dengan suara lantang menggelegar seperti petir.
"Mbak Vana ambil ayamku" ucapku.
"Cuma ambil dikit!" balas Mbak Vana, "masa cuma Rissa aja yang dibeliin?"
"Kamu udah gede, ngalah."
"Enggak adil!" Mbak Vana mulai merajuk begitu juga denganku yang kesal karena ayam goreng sudah diambilnya walau sedikit.
"Syukuri apa yang ada" Papa mulai ikut campur.
Kekesalan Mbak Vana begitu pekat dan menyebar menular hingga Papa serta Mama ikut kesal. Alhasil aku dan Mbak Vana malah harus menerima kemarahan, tak ada makanan pula untuk malam ini.
Ini semua salahnya!
Kini aku meringkuk di kamar dengan perut masih lapar. Aku menunggu hingga suasana rumah sepi dan menyelinap menuju dapur. Akan tetapi nihil, dapur kosong tanpa makanan! Hanya ada barang mentah.
"Percuma, gak ada makanan" Mbak Vana juga ada di sini terlebih dahulu.
Aku hanya menatapnya dengan raut malas.
"Cari gorengan Kang Taji, yuk" ajaknya.
Tentu saja aku ikut seolah pertengkaran tadi tidak pernah ada. Larut malam kami menyelinap mengendap-endap keluar rumah untuk cari makanan. Di sana kami makan dengan rakus, seperti tidak pernah diberi makan.
"Mama kalian enggak masak?" tanya Kang Taji.
"Masak? Sejak kapan, Mama pelit! Masak aja dikit banget, enggak enak pula" jawabku dan Mbak Vana melotot ke arahku.