"Memang bodoh aku nerima lamaranmu, harusnya aku mikir dulu karena kita berbeda!" kataku dan jemari mengusap airmata yang berlinang.
"mungkin aku memang gak cocok pakai cincin ini" Aku melepas cincin pemberiannya tapi Mamed menahan.
"Selain kamu, gak ada yang boleh pakai cincin ini," ucapnya.
Tangannya memukul kemudi. Aku yakin dalam hatinya sedang mengutuk perbedaan diantara kami. Maka, segera aku keluar mobilnya dan masuk rumah. Mamed segera melaju secepat mungkin meninggalkan kediamanku.
"Bagaimana??" tanya Mbak Vana.
"Aku mau tidur, Mbak," ucapku dan segera ku rebahkan diri di atas kasur dan aku terlelap dengan sendirinya.
Aku terjaga saat Mama ada disini mengusap rambutku.
"Bagaimana? Tidak mudahkan?" ucap Mama.
Aku memeluk dan menumpahkan tangisku untuk kesekian kalinya. Kenapa semua terasa berat kujalani untuk saat ini? Aku hanya bisa berdoa untuk mengadu.
"Apa kamu menyerah?"
"Enggak," jawabku.
"Apapun yang terjadi, semua ada jalannya ... Kamu harus percaya itu,"
******
Usahaku untuk berbicara dan menawar dengan segala keadaan walaupun aku akan menderita akan kujalani, tetapi restu ibu Mamed sama sekali tak bisa digoyahkan.
"Semakin sulit yang kita jalani, semakin berharga pula cinta kita," ucap Mamed menenangkan.
Aku hanya diam mencoba mencerna semua yang telah terjadi dalam hidupku. Semua hal pasti akan mengalami masalah, tergantung kuat atau tidaknya kita mengahadapi.
"Buk" Mamed memulai pembicaraan
"Gak, gak usah diterusin! Sekali enggak ya enggak," kata ibu
"Buk ... Rissa minta tolong, Bu," ujarku mencoba.
"Nak, kalau ibu bilang enggak, ya enggak" Beliau juga tidak mau tahu akan hal ini.
"Buk..." Tangis mulai tak bisa kutahan.
"Mau jadi mualaf??" tanya beliau.
"Iya buk, apapun yang penting kami bisa bersama," kataku mantap.