Tak perlu kutuliskan bagaimana rasanya kehilangan, semua pasti pernah atau akan mengalaminya. Mamed masih bertahan di tempat ibunya dikebumikan. Sebisa mungkin mulutnya melantunkan doa-doa semestinya.
Kini Sorot tajam matanya tak lagi terlihat, luka di hatinya yang mulai tertutup harus kembali terbuka lebar dengan kehilangan orang yang paling ia sayangi. Pandanganku terkunci pada selembar kain kerudung yang tergeletak di kursi. Ini adalah kerudung milik beliau saat masih hidup. Kucium aroma tubuh beliau masih tertinggal. Tangis Mamed kembali pecah saat ia juga mencium kain kerudung ini, seperti kenangan bersama ibunya menyeruak masuk mendobrak segala memori yang ada.
"Kenapa?" tanya Rena, masih sama ia seperti ninja yang tak bisa disadari kehadirannya secara tiba-tiba.
"Aroma ibuku masih ada di kerudung ini, Rena...," Ucap Mamed tersedu-sedu.
"Kata siapa?? Itu punyaku, dikasih ibumu."
Seketika itu juga tangis Mamed terhenti!
"Jancok!! Kenapa kau gak bilang!" Mamed jengkel.
Rena tersenyum menyeringai lebar sekali, " kau gak tanya"
"PANTEK!!"
******
"Jangan tinggalkan aku, Kak Ness," ucapnya saat kami sudah berada didepan rumahku, ia menahan agar aku tak segera keluar dari mobilnya.
Mataku menatapnya dengan lekat, pikiranku benar-benar kosong. Apa yang harus aku lakukan? Aku memilih masuk rumah, meninggalkannya agar bisa menenangkan diri. Drama sinetron kulihat dengan mata kepala.
"Ada apa, Rissa??" tanya Mama.
"Entahlah Ma ... Aku gak tahu," jawabku setelah menyaksikan drama Mamed melawan keluarga besarnya.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana Mamed membelaku habis-habisan. Dengan suka rela ia pergi meninggalkan rumahnya dimana ia tumbuh dan berkembang! Dia diusir dari tempat yang seharusnya menjadi hak miliknya. Setelah kepergian ibunya, ia tak lagi memiliki siapapun. Disaat itu juga ia masih melindungiku dari ucapan yang membuatku ketakutan setengah mati.
Aku mulai menyadari, ucapan dari keluarga besar Mamed membuatku syok. Bertahun-tahun aku tak mengalami trauma ini, dan kini malah kembali muncul dengan frontal. Bahkan dadaku terasa sangat sakit dan berdebar.
"Ada apa, cerita sama Mama," kata mama, " siapa yang buat kamu nangis lagi?"
Segera aku hapus air mata, tapi tangisku tak terbendung. Sudah kucoba untuk menahan tapi mulutku menceritakan semua dari awal sampai akhir.
"Sekarang bagaimana keadaan Mamed?" tanya Mama.
"Aku gak tahu, mungkin dia juga masih kaget," jawabku.
Semua pikiranku tertuju pada Mamed, orang yang menemaniku dari awal hingga akhir. Aku tak mau ia menderita dengan dijauhi keluarganya.
"Ma ...," ucapku berat.
"Ya?"
Aku tarik nafas sejenak, cukup berat! Sangat berat!, "Aku menyerah, aku gak pantas ... Aku gak mau Mamed menderita karena aku"
Mama hanya diam, aku tak tahu isi pikirannya.