Hari ini ...
"Kau sudah sampai?"
"Belum, masih setengah perjalanan" balasku.
" Padahal aku sudah sampai di stasiun."
"Cari kopi, atau silakan merokok, atau apapun terserahmu."
"Baiklah."
Panggilan tertutup, aku mengistirahatkan sejenak mata dan pikiranku. Cukup menyenangkan bisa kembali ke masa lalu. Aku merindukan masa sekolah, rindu dengan teman dan guru meski ada banyak hal menyakitkan di tempat itu. Namun kehadiran Mamed bisa membuat sekolah terasa menyenangkan lagi walau langganan masuk ruang konseling menjadi harga.
Februari 2006
"Pulang, yuk!" Ajakku setelah mendengar bisikan gaib.
"Ini masih jam berapa, kampret?!!!" Ia marah mendengar ide gila dariku.
"Jadi kau gak mau yang enak-enak??" Aku memberikan godaan agar ia menurut begitu saja.
"Maksudnya??"
Aku membalasnya dengan memainkan alis keatas dan kebawah.
"Gak! Gak mau, aku masih perjaka," ucapnya.
"Otak mesum mu ingin ku tendang!" Jawabku jengkel.
"Kalau kena hukum??"
"Trust me, darling" kataku.
Ia langsung tersenyum sumringah. Kami sempat mencoba cara baru, yaitu melompati pagar.
"Mikir dikit lah! Ini tinggi," kata Mamed dan tak kugubris.
Aku segera memanjat pagar dengan bantuannya. Ketika aku sudah Di atas, aku menyadari tinggi permukaan tanah di luar sekolah jauh berbeda. Cara seperti ini tak akan berhasil.
"Hei.... Aku gimana naiknya??" tanya Mamed dibawah.
"Ya, naik lah" jawabku.
"Tinggi!"
"Lemah, kau!" kataku menghitung kemungkinan jika mendarat dari ketinggian semacam ini.
Jika ku hitung kemungkinannya, Kami tak akan bisa pulang ke rumah setelah melompat pagar ini! Kami akan langsung pulang kepada sang pencipta.
"Kita pakai cara biasanya," kataku mundur.
"Takut?" tanya Mamed
"Bukannya pulang ke rumah, kita bakal pulang ke Rahmatullah!!" jawabku kembali melompat ke sekolah.
*******
Siang harinya....
Aku terbangun dengan kaget bukan main, Mbak Vana berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa sih, mbak??" tanyaku.