Hari ini...
Satu halaman acak dari kenakalan saat sekolah berhasil membuat goresan senyum di wajahku. Masih teringat dengan jelas kemarahan Papa Mama setelah mengetahui kejadian itu. Bahkan intonasi hingga tiap oktaf suara mereka masih terbayang hingga saat ini. Apakah kepulanganku kali ini akan disambut baik mengingat semua hal konyol yang telah aku lakukan?.
Semoga...
Mengingat hal konyol, aku kembali mencoba membuka secara acak dimana konyol luar biasa ini mendatangkan kekecewaan bagi kedua orang tuaku. Saat aku membuat keputusan konyol bin goblok.
September 2019
"Sunsetnya indah, ya," ucapku.
Sore ini kami menikmati sunset untuk terakhir kalinya. Aku akan mengakhiri ini semua!. Apapun resikonya, yang terpenting ialah Mamed tak akan menderita lagi. Tuhan semesta alam, mohon kuatkan hatiku untuk melanjutkan hidupku tanpa dia.
Matahari terbenam sore ini sangat indah atau hanya keadaan saja yang membuatnya demikian. Kini malam sudah tiba, laut menjadi surga para nelayan. Aku melihat seperti pertunjukan kunang-kunang bergerak kesana kemari dihiasi mendung dibeberapa titik, musim penghujan akan tiba. Dan kami memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang kucoba untuk mengalihkan perhatian serta menyiapkan diri untuk berterus terang untuk mengakhiri hubungan ini. Lagu dalam tape aku iringi dengan suara yang cukup enak jika kudengar sendiri. Dan saat kami tiba di rumahku, mulutku mendadak berhenti bernyanyi.
"Agama tidak mengijinkan kita bersama, sudah ya... Kita berhenti sampai disini"
"Kak Ness...," ucap Mamed tak percaya, aku harus kuat untuk mengakhiri ini semua.
"Tolong dengarkan aku," kataku menatapnya dengan berkaca-kaca, "Aku cinta kamu dari dulu dan cintaku gak akan pernah luntur, tolong kejar apa yang harusnya kau kejar... Kau harus bisa bahagia tanpa aku, kau juga harus tahu kalau aku benar-benar benci kalimat itu. Kamu harus ikhlas" Sekuat mungkin aku tahan rasa sakit di dada.
"Kak Ness, aku hancur tanpa orang yang kusayangi... Tolong jangan pergi," ucapnya meminta belas kasihan.
"Dan maaf, aku bukan menyembuhkan malah menambah luka di hatimu," imbuhku.
Kami saling memandang.
"Harusnya aku lakukan ini dari dulu," kataku.