Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #23

Disappointed




"Apapun alasanmu, Papa enggak mau dengar!" Papa hengkang dari sofa saat aku ingin menjelaskan apa yang terjadi.


Terlihat Mbak Vana sedang melipat baju, "Kalau mau curhat atau apapun, tunggu ... Aku mau kasih makan anakku"


Secara halus Mbak Vana menolak untuk berbincang denganku. Kini aku pindah menuju dapur untuk melihat Mama yang sedang membuat kopi. Tanpa basa-basi aku mulai menjelaskan apa dasar keputusanku untuk menyerah dengan cinta yang telah dibangun sejak lama. Mama mendengarkan tiap kata yang keluar dari mulutku dengan sangat baik, meskipun aku tahu betul Mama tidak peduli.


"Bagaimana menurut Mama?"


"Enggak tahu, itu keputusanmu," balas Mama


"Mama dengar aku, kan?"


"Dengar, Mama dengar kok... Mama mau minum kopi di teras, jangan ganggu dulu, ya" ucap Mama.


"Keluarga ini udah enggak sayang dengan aku?"


Mama tertawa kecil, "Enggak sayang? Kata siapa, semua sayang denganmu"


"Lalu?"


"Mama cuma kecewa dengan keputusan bodohmu!"


Aku menghela napas panjang, kekecewaan sudah tidak bisa ditoleransi.


"Oh ya, sebentar lagi kamu menikah... Persiapkan diri, cukup kali ini kamu buat kecewa keluarga" ucap Mama lalu menghilang dari pandanganku.


Akh! Aku memilih keluar rumah. Saat melewati garasi terdapat suami Mbak Vana yang mengeluh pasal mobil.


"Sayang, enggak ada bengkel lain selain Mamed? Mobilnya rusak lagi"


Aku benar-benar sudah muak! Aku menendang pompa angin yang menghalangi jalanku.



Sesampainya di warung kawanku, dengan rakus aku menghabiskan gorengan di piring.


"Habis berantem dengan Papa Mama?" tanya Ani


"Enggak, cuma bosan aja di rumah," jawabku seenaknya.


"Tumben Mamed gak pernah kelihatan di rumahmu."


"Sibuk kerja, bengkelnya rame banget" jawabku masih seenaknya.


Masalah ini hanya keluargaku yang tahu, aku patut bersyukur tidak melebar kemana-mana menjadi gosip. Tak lama kemudian Diana sahabatku datang.


"Aku enggak habis pikir!" Diana menggeruduk tanpa basa-basi.


"Ya, begitulah," balasku.


"Ini maksudnya gimana?" tanya Diana sambil mengajak sedikit menjauh karena obrolan ini tidak boleh terdengar siapapun kecuali kami berdua.


"Gimana, apanya? Aku nyerah ...."


"Padahal ini kesempatan baik, siapa yang akan menghalangi" Diana masih heran dengan keputusanku yang menyerah tentang kisah cinta.


Akhirnya aku menceritakan bagaimana bisa keputusan menyerah menjadi pilihan. Tekad bulat ini dipicu karena sebuah janji yang tidak akan pernah bisa ditepati, dan sebelum itu aku memilih mundur.

Mendengar asal mula ini semua membuat Diana menarik napas panjang sekali, sepanjang cerita ini yang bikin mulutku berbusa.


"Gimana dengan Zizi? Dia itu sahabat kita dan dengan gobloknya kau sakiti hati adiknya, adiknya itu kau pacarin"


"Semenjak SMA, aku jarang sekali hubungi dia," jawabku mencoba menahan air mata, "untuk sekarang aku enggak tahu harus bagaimana, lagipula meskipun saudara kandung, mereka enggak pernah akur"


"Alasan paling goblok yang aku dengar darimu,"


"Aku harus jawab apa?" tanyaku.


Lihat selengkapnya