Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #24

Wedding Day


Deru mesin terdengar cukup keras, bahkan menembus ruangan tempatku bersiap sebelum janji suci ku ucap. Mamed datang dengan Rena.

Mamed tetaplah Mamed, kalau tak buat masalah bukanlah dirinya. Ia hampir saja menghajar Johnny. Dan sempat dilerai oleh Mbak Vana. Mereka berbincang sejenak dan Mbak Vana segera mempertemukan denganku walau ada sedikit drama dalam perbincangan itu.


"Silakan, ini terakhir kalinya," ucapnya.


Melihatnya hari ini membuatku terpaku. Harusnya ia yang akan menjadi mempelai pria hari ini, bukannya Mike. Semua kekonyolan ini harus aku jalani walaupun penuh sesal. Aku tahu pintu hatinya sudah tertutup rapat untukku, Tidak akan pernah bisa aku buka dengan cara apapun. Aku tidak tahu isi ruangan dalam hatinya saat ini, penuh kebencian padaku atau sebaliknya yang ia pilih untuk simpan rapat-rapat. Aku hanya berharap suatu hari pintu itu kembali terbuka bersama Kenangan yang begitu melekat di kepala, menari-nari kesana kemari layaknya diputar dalam rekaman usang. Di balik pintu itu betapa aku punya banyak kenangan. Di balik pintu itu pernah ada seorang bocah yang membuatku mengerti arti cinta yang sesungguhnya. Di balik itu pernah kusimpan harapan tentang indahnya hidup, dan di balik pintu itu juga ada cerita tentang sebuah konyolnya perbedaan.


Maka tinggallah jiwaku sendirian di sini. Benar-benar sendiri. Tanpa ucapan menyambutnya yang khas, tanpa celotehan ngawurnya, dan tanpa senyum yang sejak kepergiannya selalu kurindukan. Hari-hari yang aku lewati beberapa hari ini terasa suram dan gelap. Bisakah kalian membayangkan tentang seseorang yang mengisi waktu kalian, seseorang yang sudah menjadi bagian hidup lebih dari yang pernah kalian inginkan walau sesaat, lalu dia pergi dan membiarkan kalian sendirian dengan secangkir kerinduan yang disisakannya? Kalian akan terus meminumnya, meskipun kalian tahu, semakin kalian meminumnya, akan semakin hebat sakit yang kalian rasakan. Itu yang sedang ku nikmati sekarang.


Ctik!!, "hei!" Mamed menjentikkan jemarinya untuk menyadarkanku dari lamunan lalu menunjuk jam di pergelangan tangan.


"Maafkan aku!" Kupeluk tubuhnya dengan sebisa mungkin menahan tangis,


Tetapi Mamed menolak agar tubuh kotorku tak menyentuhnya, ia mengibaskan debu yang melekat pada Jasnya seolah mengisyaratkan ia jijik denganku.


"Tenang, kau sudah ku maafkan," ucap Mamed dengan nafas besar, "Aku cuma gak bisa memaafkan diriku sendiri karena kelakuan mu! Dan terus kau mau apa lagi??"


Kupeluk lagi tubuhnya dengan cepat dan sangat erat agar ia tak punya kesempatan untuk melepas.


"Sudahlah!! Gak usah nangis, kebanyakan drama!!" ujar Mamed.


"Jangan!" Kataku menahannya dengan seluruh kekuatan ketika ia ingin beranjak pergi. Aku tahu benar ia sudah muak dengan omong kosong ini.


Lihat selengkapnya