Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #26

Out of control



Untuk sekadar hal yang tidak berguna, keberuntungan Mbak Vana bisa sangat ampuh. Aku sendiri sama sekali tidak mengerti cara kerja permainan ini. Namun Mbak Vana bisa memenangkan permainan ini dan mendapatkan hadiah yang banyak. Jika aku pikirkan sekarang, hal ini sudah tidak akan terjadi mengingat kecurangan bandar yang semakin pintar.

Di belakang pasar malam Mbak Vana tersenyum sembari mengajakku lari sekencang-kencangnya menuju keramaian. Sebelum pulang, Mbak Vana mencoba memaksa peruntungan untuk bermain 1 permainan lagi! Dan hebatnya ia bisa memenangkan hadiah utama berupa gameboy! Dan saat itu juga kami harus berlari lagi agar tak diikuti pemilik permainan di pasar malam.


"Hoki!!" Mbak Vana terengah-engah setelah berlari sampai rumah.


"Darimana kalian berdua?" tanya Nenek.


"Pasar malam" jawabku.


Mbak Vana berbisik pada Nenek, lalu meledak tawa nenek saat melihat hadiah yang kami dapat dari permainan di dalam pasar malam dan yang berada di bagian belakang pasar malam.

Tak lama kemudian beberapa orang datang, ternyata itu adalah orang dari pasar malam. Mereka berniat untuk membeli dan mencoba untuk fitnah kami berdua. Segera nenek meneriakkan nama Papa. Mbak Vana juga ikut beradu argumen tentang memenangkan permainan ini.

Papa menatap tajam kami berdua yang malah pergi ke tempat judi di belakang pasar malam, tetapi tatap tajam itu berubah dengan sedikit senyum karena kami menang banyak.

Tanpa basa-basi Papa membalas intimidasi orang-orang itu. Salah satu orang di cengkeram kerah bajunya dan dilempar begitu saja! Ukuran tubuh papa jauh lebih besar dan kuat.


"Kalau masih mau ganggu, aku yang maju!" Papa sangat garang!


Satu orang maju tanpa rasa takut! Dan saat itulah tinju Papa mendarat mulus di wajah dan langsung membuat lawan KO.


"Ada yang masih mau lawan?" Papa menantang tanpa ada rasa takut.


Karena keributan, beberapa tetangga mulai keluar. Dan hal itu membuat orang-orang dari pasar malam pergi karena tak ingin ada hal yang tidak diinginkan. Mereka pergi sambil mengancam Papa.

Mbak Vana membagi hasil dengan Papa, "Lumayan lho, Pa, beli rokok satu slop".


Tentu saja Papa senang bukan main, dan berpura-pura marah agar kami segera masuk rumah dan tidur. Tak lama kemudian Papa hendak pergi dengan sesuatu yang disembunyikan dalam jaket.


"Mau kemana, Pa?" tanyaku


"Malam ini Jadwal Papa ronda" jawab Papa segera pergi.


****


Entah jam berapa aku terbangun mendengar suara tawa beberapa orang. Aku mencoba mencari asal suara, ternyata suara Papa dan beberapa pria paruh baya yang aku kenali sebagai teman Papa. Tak ada hal aneh, aku ambil air dan kembali tidur.

Keesokan paginya saat sarapan, secara tidak sengaja aku melihat tangan papa lecet.


"Semalam ada maling, Papa sama teman-teman bisa tangkap malingnya" Papa menjawab pertanyaan sebelum terucap olehku.


Aku penasaran dengan nasib maling itu yang dihajar oleh Papa dan teman-temannya. Selain babak belur, apa maling itu masih bisa makan dan minum secara normal?.


"Jangan percaya, Papa semalam!" Mulut Mbak Vana dibungkam oleh Nenek.


Ada apa sebenarnya?.

Lihat selengkapnya