"Dengar baik-baik, aku terima maafmu, keadaan jadi kacau balau, aku gak mau nyalahin kelakuanmu! Aku merasa ini bukan salah siapa-siapa!" kata Mamed ambil nafas sejenak, " tapi aku jadi seperti ini! itu seratus persen salahmu! Aku berubah, aku jadi jahat, aku jadi iblis semua salahmu! Aku gak mau salahkan siapapun kecuali kauu! Sadar kau?!!"
Entah mendapat kekuatan dari mana Mamed bisa meraih gelas dan ingin menyiram wajahku, tapi Rena segera merebut gelas! Dia bisa membaca apa yang akan suaminya lakukan.
"Semua tak lagi sama! Kita sudah punya kehidupan, aku hargai istriku, aku juga hargai dirimu!" kata Mamed menarik nafas lagi, "Setelah kau keluar dari pintu itu, aku tidak akan ingat pernah berbincang bersamamu, pernah kenal atau bertemu! Kau gak akan pernah ada di kehidupanku bahkan dalam mimpi! Kita jalani hidup tanpa saling kenal! Karna kesalahanmu fatal buatku! Dan sekarang aku punya hidup yang selalu kuinginkan! Dan ini saatnya kau pergi dari hidupku dan jangan kembali apapun alasanmu!" Ucapnya dengan emosi
Sorot matanya masih sangat tajam menatapku, kutarik nafas panjang dan pergi. Aku memang pantas dilupakan. Semua yang membuatku sakit hati memang pantas kuterima. Aku jahat!.
"Semoga apa yang kau inginkan selalu kau dapatkan, semoga kau selalu bahagia dengan keluargamu, dan terima kasih untuk segalanya," ucapku ingin menangis untuk kesekian kalinya.
Mamed menunjuk pintu keluar.
"Aku masih ingat perkataanmu sore itu, jadi aku bakal lupakan semua tentangmu dan selamat tinggal," ucapnya yang akan selalu menghantuiku seumur hidup.
"Maaf untuk segalanya," ucapku dalam hati.
******
Masih terngiang ucapan Mamed hari ini! Aku yakin tiap intonasi tidak akan bisa terhapus bagaimanapun caranya. Lebih baik aku segera menyudahi berendam air hangat yang sudah dingin, sedingin kehidupanku sekarang.
Terlihat Mama tengah asyik menikmati teh dan video dari ponsel.
"Ma, cara ngobrol dengan orang itu gimana?" tanyaku.
Jawaban Mama terlalu biasa, sebetulnya aku hanya ingin mengobrol saja. Disitulah letak masalahnya, aku malah melamun soal Mamed. Dan hal itu malah menjadi malapetaka luar biasa dahsyatnya.
"Kamu melamun?!" tanya Mama dengan nada tinggi, "kenapa? Menyesal ... Mampus!!"
Mama dengan jengkel pergi meninggalkanku disini, pintu kamar cukup keras ditutupnya.
"Goblokmu enggak kira-kira" Kini Mbak Vana menghina.
Semenjak pernikahanku suasana rumah menjadi dingin sekali walau tampak normal. Namun, aku tidak merasakan kehangatan sama sekali. Entah keluargaku yang berubah atau memang aku saja yang tersugesti demikian.
"Papa..." Aku menghampiri Papa yang duduk di teras belakang bersama lagu lawas.