Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #29

Hatreds

Rumah yang sedingin kulkas nugget membuatku sama sekali tidak nyaman. Aku lebih sering berada di kontrakan untuk menenangkan diri sehabis bekerja. Lama-kelamaan aku tidak lagi pulang ke rumah, dan memilih menetap di sini menikmati ketenangan.


"Rissa, kamu enggak pulang?" tanya Papa.


"Enggak, Rissa terlalu lelah kalau masih harus nyetir pulang"


"Papa tahu kamu masih marah dengan Mama, pulang saja ... Ucapan Mama jangan dimasukin hati"


"Rissa enggak marah dengan Mama, Rissa cuma lelah aja, apalagi kerjaan makin berat"


"Istirahat di rumah juga enak, apa mau Papa antar jemput?"


"Pa, sekarang sedang pandemi, Rissa enggak mau pulang bawa penyakit" ujarku, "Setidaknya hanya itu yang bisa Rissa lakuin"


"Papa ngerti, Papa cuma takut kamu marah sama Mama" Papa masih mencoba membujuk agar aku pulang, "Kalau butuh uang atau apapun, bilang aja"


"Papa tenang aja, Kalau kondisi sudah membaik, Rissa pasti pulang..." Aku langsung menutup telepon.


Aku tengah berbaring di kasur dengan menikmati posisi nyaman. Selain pandemi, pertengkaran dengan Mama membuatku enggan pulang. Pandemi membuatku sangat lelah, terlebih tempatku bekerja membludak dibanjiri pasien dengan kondisi gejala yang sama.

Pikiran makin kacau, aku mengirim pesan pada Mike. Apakah ia bisa mengajakku keluar mencari angin. Untungnya, ia bersedia membawaku dan segera menjemputku tanpa harus menunggu lama.


"Mau kemana, istriku?" Mike berucap dengan nada menjijikkan.


"Cafe aja, dan jangan genit!"


"Genit? Hei, aku ini suamimu dan sebagai istri dalam janji sumpah setiamu, kau bersedia menghormati aku" ucapnya.


Aku hanya menghela napas dengan kekonyolan Mike.


"Ini serius kita ke cafe?" tanya Mike sembari fokus pada jalanan, "ini pandemi dan kamu enggak bawa virus, kan?"


"Sebenarnya itu cuma flu biasa, tapi kita tersugesti kalau itu virus mematikan" Aku bohong denga brutal.



****



"Ini cafe yang biasa kau kunjungi bareng Mamed, kan?" tanya Mike dengan menyapu pandangan ke segala arah.


"Betul, cafe langganan" jawabku segera menuju tempat pemesanan.


Lihat selengkapnya