Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #30

Chaotic on Christmas

Aku sudah lupa berapa lama tidak bertemu dengan Mamed? Haha, itu bohong! Aku selalu pulang bekerja tepat melewati bengkelnya. Kadang ia ada di depan bengkelnya untuk bersenda gurau dengan karyawannya atau dengan pelanggan setia sembari menikmati kopi sore dengan pemandangan macetnya jam pulang. Pandemi sudah menyebar lebih satu tahun menuju tahun kedua, itupun kalau aku tidak salah ingat.

Ada rasa membuncah saat aku ingat hampir selalu menghabiskan waktu di bengkelnya saat libur atau saat pulang kerja. Akan tetapi, sekarang tak lagi sama! Kami memiliki masing-masing tanggung jawab untuk dipenuhi. Tidak denganku yang malah lari dari tanggung jawab kehidupanku. Semua orang pasti pernah lari dari tanggung jawab, setidaknya beberapa kali.

Jadi, kenapa bisa manusia melarikan diri dari tanggung jawab? Apakah karena hasutan setan sebagai salah satu alasan? Entahlah, yang aku yakini bahwa setan selalu membisikkan sesuatu agar manusia selalu berbuat diluar batas.

Berbicara mengenai diluar batas, semua orang pernah berperilaku seperti itu. Begitu juga dengan aku dan Mamed, perilaku kami sudah benar-benar diluar batas kewajaran, norma dan agama. 


"Aku tahu ini pertama kali, biarkan dosa ini selalu menghantui" ucapku lalu mengecup lembut bibirnya, "Aku enggak mau kehilanganmu untuk kesekian kalinya"


"Tapi ...."


"Jangan tinggalkan aku"


Disinilah semua rasa bermula, berawal dari nikmat berujung dosa tak terkira. Sebuah pengkhianatan, ralat! Dua pengkhianatan. Mamed yang mengkhianati Rena dan aku yang mengkhianati... Siapa yang aku khianati?. Sejauh ini tidak ada yang terkhianati olehku. Jadi, tetap satu pengkhianatan saja yang dilakukan Mamed. Aku tidak ingin membela diri begitu juga dengan Mamed, biarkan kami memberi penjelasan singkat walau tidak begitu singkat. 

Aku sudah tak tahan dengan rasa rindu dan ingin memiliki. Ditambah Mamed yang sedang tidak baik-baik saja dalam keadaan rumah tangga yang susah payah jungkir balik ia bangun. Awalnya ia menolak keras kehadiranku bahkan tidak segan untuk menyakitiku dengan tangannya yang selama ini memberi apa yang aku inginkan dan aku butuhkan. Dan dengan gigih serta bodohnya aku, aku berhasil membuat dosa pengkhianatan untuknya. 

Aku begitu terpana atas ciptaan tuhan yang melekat padanya. Tak pernah ada dalam pikiran sebelumnya, kini tepat di depanku dengan setan yang memenuhi pikiran. Ruangan ini menjadi saksi bisu dua insan memadu kasih dengan dahsyat yang selama ini terpendam dan dikhianati perbedaan. Dan disinilah semua masalah tumbuh dan berakar menjadi tumbuhan kuat. Benih dosa kami tanamkan menunggu siap dipetik suatu hari nanti. Disinilah kami berdosa.




*****



Di suatu hari ...

"Enggak biasanya kamu senyum" Tanya Mama kembali memulai pembicaraan setelah sekian lama diam membisu.


"Pandemi mulai berkurang, Rissa juga mau Natalan bareng orang rumah"


"Tumben juga mau Natalan" Mbak Vana menyahut, "Biasanya enggak pernah peduli"


Suasana Natal kali ini berbeda atau hanya perasaanku saja. Seperti ada yang kurang, namun semua orang lengkap di malam natal ini.


"Mamed enggak diundang?" tanya Papa langsung duduk.


"Betul itu!" Imbuh Mike, "sudah lama aku gak ketemu dia"


Papa heran dengan Mike, menarik kacamata dan menaruhnya, "Bukannya, kau di hajar Mamed? Dua kali"


"Memang, tapi karena hal konyol ini," jawab Mike ada sedikit tawa mengingat hal itu, "Tapi, kalau bukan Mamed, aku masih jadi bencong"


Mike benar-benar menunjukan kegagahan seorang pria sejati, ia juga pandal bermain seni peran, selain Mamed. 


"Jangan, aku enggak berani untuk sekarang," Aku menengahi,"Dia sudah ada istri, sungkan jadinya kalau masih undang acara malam natal"

Lihat selengkapnya