Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #32

Controlled

"Hei, aku bawa sesuatu buatmu" Mamed ada disini, ia berdiri di depan pintu, "Aku berhutang maaf padamu"


"Untuk?" tanyaku


"Sebenarnya ini kado buatmu."


"Maaf, aku enggak bisa terima" jawabku.


"Nerissa, tolong terima ... Ini niat baik dariku, maaf kalau aku marah padamu, aku sakit hati sama Mamamu"


"Kalau kamu marah seperti itu pas ada masalah, enggak!," balasku menghapus air mata. "Aku enggak mau maafin"


"Nerissa, aku sakit hati juga dengan ucapan Mamamu, meskipun itu bukan untukku"


"Kau pernah bayangin jadi aku?" tanyaku dengan nada menekan, "Seumur hidupku, aku merasakan diatur sedemikian rupa! Enggak bisa ini, enggak bisa itu, enggak bisa anu! Diatur sampai umur segini, Mama selalu ngelihat aku sebagai anak yang harus nuruti apa kata orang tua!".


Mamed menghela nafas.


"Karena orang tua selalu tahu yang terbaik untuk anaknya, kau pikir aku enggak capek? Kau pikir aku enggak sakit hati?" imbuhku.


"Iya, aku ngerti" ucap Mamed mencoba menenangkan diriku.


"Enggak, kamu enggak ngerti! Kalau kamu ngerti, seharusnya kamu enggak marahin aku" ucapku dengan air mata yang kembali menetes


"Nerissa, apapun yang terjadi ... Aku enggak akan ninggalin atau bikin kamu sakit hati lagi" Mamed berkata sembari menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


"Kalau bukan kamu, aku harus berharap sama siapa lagi?" 


Aku kembali menangis keras


"Kamu jahat banget! Kamu mau ninggalin aku lagi, cuma kamu yang jadi harapanku!"


"Kamu bisa pegang janjiku, Nerissa" ucapnya menenangkan.


Aku mulai sadar bahwa Mamed tidak lagi menyebutku dengan panggilan Kak. Sebetulnya aku juga mulai risih, ia tahu benar aku mulai ingin ia memanggil namaku! Nama panggilanku.

Juga teringat bahwa Mamed juga yang mengulurkan tangan membawaku lebih berani menghadapi hinaan di sekolah karena perbedaan keyakinan ku dengan mayoritas murid. Cukup lucu ia tidak suka dengan murid yang membawa candaan agama lain, padahal dia sendiri tidak tahu kalau aku bukan seorang muslim. Ia juga yangembuatku mulai percaya diri, ia juga yang membawa keceriaan di sekolah saat aku sedikit lagi putus harapan. Jika bukan Mamed, siapa lagi? Hany dia yang aku inginkan selamanya!.


"Silakan marah padaku, aku hanya mohon untuk maafkan Mama mu"


Aku hampir lupa kalau tangisan ini karena pertengkaran dengan Mama, aku sudah lelah dengan ini semua.






Flashback.



"Ngapain kuliah!" tanya Mama.


"Ma, biarkan aja Rissa kuliah" Mbak Vana membela


"Jaga toko itu jauh lebih baik buatmu," ucap Mama kesal, "Kau mau jadi macam Mbak Vana, Kuliah hampir DO?"


"Itu enggak ada hubungannya denganku" balasku.


"Mama punya ide bagus!" Mama akan memberi ide yang tidak akan disukai siapapun, "Lebih baik kau nikah aja"


"Serius! Rissa cuma mau kuliah"

Lihat selengkapnya