"Tadaima!!" Mamed memberi salam.
"Assalamualaikum!" Aku mengingatkan.
"Waalaikumsalam ...."
"Kebalik!" Aku kembali mengingatkan karena otak bodohnya kadang keterlaluan melenceng dari yang seharusnya.
"Kebalik!" Ia mengikuti ucapanku.
"Tolong, yang benar atau adik kecilmu itu aku sunat lagi"
"Assalamualaikum, sayang..." Suara Mamed turun 65 oktaf.
"Waalaikumsalam, sayang ...," Aku ikuti turun 87 oktaf, "Okaerinasai"
Hari ini ia terlihat seperti Mamed yang aku kenal. Ia seperti kembali saat kami masih bebas untuk bersama tanpa gangguan dari siapapun.
"Langsung mandi, water heater udah kepasang" ucapku.
"Terus?" tanya Mamed memelukku dari belakang, "Kamu tahu aku enggak suka mandi air hangat"
Aku yang menyiapkan makanan teringat atau bahkan baru tahu hal ini. Kini aku berbalik badan dan mengecup bibirnya.
"Mandi saja, lalu kita bisa makan"
"Mandi saja? Aku pulang bukan cuma untuk mandi" jawabnya menarikku ke kamar mandi.
******
Hari-hari yang sempurna bersama pria yang aku cintai harus selesai, Mamed harus kembali pada Renatta dan aku kembali pada kenyataan. Dan kali ini kenyataan sedang menjungkirbalikkan duniaku yang sudah hancur.
"Rissa, kamu mau pulang kapan?" Papa lemah sekali.
"Papa harus sembuh, Rissa sudah bisa pulang" balasku.
Kali ini Papa terbaring lemah di rumah sakit. Ada Mamed disini menemani walau tidak bisa berlama-lama karena prosedur berubah total disebabkan pandemi yang berkepanjangan.
"Rissa, kalau butuh apapun langsung telepon saja" Rena berkata padaku.
Entah sejak kapan aku dan Rena malah menjadi lebih dekat, mungkin bisa dikatakan berteman dengan sangat baik. Cukup heran jika ditelusuri kalau aku dulu atau bahkan kita berdua saling menyimpan dendam kesumat.
Sebelum Mamed pergi, ia berbincang serius dengan Papa. Bahkan hanya ada Mama yang menemani dan aku sama sekali tidak berani menguping.
Mamed menghela napas panjang saat keluar dari kamar, ia menatapku sejenak. Sedikit berpikir bagaimana cara menyampaikan sesuatu padaku.
"Besok Papamu sembuh, tenang saja, Nerissa" ucapnya.