Dua hari pergi menemani Mamed untuk ujian universitas cukup menguras tenaga. Aku juga membantu untuk ini itu anu ina inu agar ia benar-benar bisa masuk universitas. Sesampainya di rumah aku langsung merebahkan diri, Mama yang melintas membuat jantungku berdegup kencang. Apalagi Mamed juga masih disini melepas lelah dengan asyik menikmati es.
"Gimana hasilnya?" tanya Mama dengan raut yang tidak bisa aku jelaskan.
"Minggu depan, hasilnya keluar" jawabku, "Ma, jangan bahas hal aneh-aneh dulu, ya"
"Mama tahu kalian berdua pasti capek," Tidak biasanya Mama bisa mengerti, terlebih akhir-akhir ini.
Mama berdiri mengambil makanan ringan serta minuman dingin untukku.
"Menurutmu, Mamed bisa masuk kuliah sesuai jurusan?" tanya Mama.
Dalam hati aku bersyukur Mama tidak membahas hal yang tidak penting.
"Mungkin, tapi aku enggak yakin ... Bisa jadi masuk, bisa jadi enggak. Mamed enggak ada komentar sama sekali perkara ujian" jawabku.
"Tolong, untuk berdoa supaya Mamed bisa kuliah" ujar Mama yang sudah aku duga akan menyambung ke pernikahan. Dan aku tidak suka itu.
"Iya," jawabku singkat.
"Kalau Mamed kuliah denganmu di kampus yang sama, Mama bisa tenang sekali," Mama dengan raut yang aneh, "Kalian berdua bisa menikah secepatnya"
Lelah dalam perjalanan bukannya hilang, malah semakin membuatku lemas.
"Ma, nikah itu gampang ... Yang penting itu pendidikan dulu."
"Iya, Mama tahu itu, kalau kamu ada yang jaga, Mama bisa tenang sekali"
"Kalau nikah, gimana cari uang?" tanyaku makin lelah. "Kalau Makan cinta bisa bikin kenyang, aku enggak masalah"
Mama tertawa pelan, "Urusan uang? Kalian berdua bisa pegang toko"
Pembahasan ini tidak akan ada habisnya.
"Mama nanti tanya lagi sama ibunya, apalagi ibunya masih menjunjung tinggi adat Jawa, nanti Mama minta tanggal baik."
"Mama atur saja, mau pakai adat Jawa... Atau ganti KTP jadi Islam atau mau apa pun, silakan" Aku masih sanggup meladeni Mama walau energi sudah terkuras habis, entah mengapa bisa.
"Mama ingin lihat anak-anak Mama jadi dewasa dan menikah, Mama ingin gendong cucu dari kamu."
"Kuliah itu berat, masih mau rawat anak?" Aku tidak percaya Mama bisa sejauh ini.
"Kamu bisa cuti kuliah, atau apa aja terserahmu"
Kepalang tanggung! Segera aku panggil Mamed dengan cukup keras demi menuruti Mama.