Aku Anak Nakal?

Firmansyah Slamet
Chapter #34

Cheating day




"Untuk hari ini, Jangan nyebelin!!" ucapku begitu melihat wajah Mamed yang sangat tidak enak untuk dipandang, terlebih bekas kotoran mesin masih menempel di wajahnya yang cabul.


"Iya sayang.... Nih aku bawain apel" kata Mamed yang sudah hapal jika aku selalu memaksanya untuk makan apel walau sekali sehari


Mamed mengajak duduk untuk menenangkan pikiranku yang kacau dan tengah dalam suasana hati yang tidak baik, tiba-tiba aku menangis dalam pelukan Mamed karena meratapi kedua orang tuaku sudah pergi. Rasa berduka masih setia bersemayam dalam hati. Memang benar kesedihan tak bisa aku kesampingkan begitu saja. Aku masih mencoba untuk ikhlas tetapi sulit.

Tiba tiba saja aku malah menampar mulut Mamed, begitu cepat emosi diriku berubah untuk hal seperti ini.


"Kau pasti pernah cium para mantan pacarmu dengan mulut ini, kan?!" Ujarku yang membuatnya kaget dengan perubahan emosiku.


Cukup jarang aku berubah suasana hati dengan cepat terlebih saat mood swing melanda. Dan aku kembali menangis sambil memakan apelnya. Lalu tiba-tiba secara reflek tanganku kembali menampar Mamed! Aku sendiri kaget mengapa bisa seperti ini, perubahan ini tidak biasanya separah ini. Ada apa sebenarnya?.


"Kamu jahat! godain ayam kampus kemarin" kataku kesal dan beranjak tapi Mamed menahanku.


"Namanya juga ukhti jahanam berkerudung dusta" balas Mamed mendapatkan tampolan dariku lagi.


Aku kembali beranjak menuju dapur, memotong apel dan memasukkan ke blender. Suara blender membuat Mamed menghampiri karena tahu gelas blender akan sangat sulit dibuka oleh diriku meskipun dengan tenaga penuh.


"Sini, aku bantu buka" kata Mamed yang melihatku dalam kondisi seperti ini tidak akan bisa membuka gelas blender seperti yang sudah ia duga.


"Kenapa? Karena aku wanita atau Karena kau pria? Kau pikir aku enggak bisa, hah!?" Kataku melotot ke arah Mamed, "Atau karena tanganmu gede, berotot, sedangkan tangan ku kecil? Maaf sekarang kesetaraan gender"


Mamed memutuskan diam membiarkan dan memperhatikan aku bersusah payah membuka gelas blender ini. Gelas blender sialan ini enggan dibuka dan mengejek betapa lemahnya aku. Dengan sejuta rasa malu, aku menghampiri Mamed dengan memasang wajah hampir menangis karena tak bisa membuka benda bedebah ini. Aku memeluknya dengan membenamkan wajahnya di dadaku yang begitu kenyal


"Bukain...." Aku merengek, "Jangan kasih tau siapa-siapa"


Mamed hanya terkekeh dan langsung menikmati jus apel itu. Lalu memutuskan beristirahat karena dia juga lelah setelah aktifitas seharian di bengkel. Dengan sekali tarikan napas panjang ia berdoa sebelum menutup mata. Ada rasa ingin menjadi super duper menyebalkan, setidaknya untuk malam ini.


"Enggak usah nafas!" kataku.


"Mana bisa kampret!! Oalah, si tolol!" kata Mamed sedikit kesal istirahatnya terganggu.


"Katanya, aku adalah nafas buatmu! Mau selingkuh dari aku? Mau selingkuh sama ayam kampus yang kau panggil ukhti jahanam berkerudung dusta?" ujarku menyalakan kompor.


Mamed hanya bisa istighfar... Ia kembali memejamkan mata dan bernafas selembut mungkin.


"Yang.... Sayang...." Panggilku dengan lembut, selembut makhluk halus.


"Hmmm??"


"Boleh tanya sesuatu, enggak??"


"Iya" balasnya


"Seandainya aku terlahir menjadi meja, kamu masih sayang sama aku?" Tanyaku ingin lebih konyol.


Lihat selengkapnya